Karnamu Aku Menjadi Muslim Yang Kaaffah

8 July 2007

Diary, tadi aku ditolong seorang laki-laki yang sebelumnya pernah aku temui di kampus. Saat aku akan menyebrang tiba-tiba ada mobil yang menyerempet. Lalu lelaki itu mendorongku ke pinggir hingga aku selamat.

 

Aku Meilani Saputri. Mahasiswi UNPAD jurusan fakultas sastra China. Hari ini adalah awal aku masuk kuliah. Tidak terlalu buruk bagiku. Mungkin hanya belum beradaptasi saja. Aku bersyukur masuk di UNPAD. UNPAD adalah universitas impianku sejak aku masuk SMP. Aku masuk UNPAD dengan prestasi terbaikku yang telah ku raih semasa SMA.

 

20 July 2007

Diary, tadi pagi aku menabrak orang. Karena terburu-buru masuk kelas, aku lari dan tidak sengaja menabrak orang. Orang itu adalah lelaki yang pernah menolongku ketika aku akan tertabrak. Setelah itu aku meminta maaf padanya dan segera masuk kelas. Bodohnya aku, saat belajar tak bisa berkonsentrasi. Hanya satu yang kupikirkan.. Siapa lelaki itu? Apakah dia mahasiswa sini juga? Aku memang tidak mengenalnya.

 

25 July 2007

Diary, entah mengapa aku selalu berpapasan dengan lelaki itu. tapi aku tak berani menyapa. Ia hanya memberi sedikit seulas senyuman lalu menundukkan pandangannya. Aneh. Dia selalu begitu. Apa ada yang salah dengan diriku? Meskipun begitu, dirinya membuatku sejuk. Aku nyaman meskipun aku hanya bisa memandanginya tanpa mengenalinya.

 

Tidak terlalu lama bersendiri, aku sudah mempunyai teman. Aku memang tidak begitu familiar di kampus. Aku seorang pendiam dan cenderung lebih suka menyendiri. Terasa tenang. Tak ada keributan, ocehan yang tak berguna dan apapun yang mengganggu kenyamananku.

 

3 Agustus 2007

Diary, aku sekarang tahu siapa lelaki itu. Namanya Harits. Lengkapnya Muhammad Fadly Al-Harits. Ternyata dia itu memang satu kampus denganku. Tapi berbeda jurusan. Ia anak fakultas Sastra Arab. Aku tau dia seorang Islam yang taat. Tapi, rasaku ini memang tak bisa dipungkiri kalau aku memang suka dan kagum padanya. Ia begitu menyejukkan.

 

Aku duduk di beranda taman kampus. Menikmati indahnya hari dan kutuangkan kejadian dan perasaan yang mengganjal dihatiku pada laptopku.

“hey Mei” sapa Nafisah mengagetkanku

“hey Naf. Kau mengagetkanku” kesalku

“hehe maaf..sedang apa dirimu?” tanyanya

“aku sedang iseng ngetik sesuatu hehe” kataku denagn tangan yang masih memijit tombol-tombol di laptop

“waah coba boleh kulihat?” pintanya menggoda

“oh tidak boleh..hehe” kataku sambil kututup laptopku

“yah dasar..baiklah, aku paham” cibirnya.

Kami berdua duduk manis membicarakan sesuatu. Aku menyodorkan makanan ringan. Sesekali kami tertawa dan saling mencibir.

“wah sudah jam 3 sore, aku ada acara mengisi kajian rohani di masjid Baiturrahman” kata Nafisah

“hm..kamu sibuk ya Naf, harimu penuh dengan kegiatan yang bermanfaat” iriku

“alhamdulillah Mei. Ya sudah aku pamit duluan ya.” Senyum Nafisah

 

***

 

Cuaca akhir-akhir ini agak sedikit tidak mendukung. Terkadang cerah, terkadang juga mendung tak karuan. Mungkin dampak global warming? Ataukah? (think your self :P). Padahal ada jam kelas di kampus. Aku ga tau harus pergi apa diam saja di rumah. Ah sama seperti diriku sekarang. Aku gelisah akan keadaan aqidahku. Tidak usah munafik, aku mencintai islam meskipun aku tidak tahu sepenuhnya. Islam itu bagaikan cuaca cerah yang mendukung hari-hariku agar lebih semangat. Tetapi, keadaanku sekarang ini seperti awan mendung yang membuatku gelisah. Awan mendung itu bagaikan noda di diri ini. Tanpa ada bimbingan, tujuan, dan tanpa arah hidup yang damai. Aku gelisah bagaimana agar aku bisa keluar dari semua hitamku. Ku lihat ponselku, walpaper foto baba dan mamaku. Ku titikan air mata kerinduan.

 

10 November 2007

Diary, sebenarnya aku ingin berubah. Aku ingin masuk Islam dan berhijab. Tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu.

 

Hari ini aku ingin menemui Nafisah. Ku sms dia dan tunggu Nafisah di taman. Ku baca buku yang berjudul “Damai dengan Islam”. Aku membaca sembari merenung. Apakah jika aku masuk islam aku akan menjadi muslim yang taat seperti Harits? Apakah aku akan istiqomah seperti Nafisah? Bagaimana jika aku tidak berhasil dengan keislamanku? Semoga Allah menuntunku menuju jalannya. Amiiin..

“sudah lama nunggu Mei?” seorang perempuan berjilbab menyapaku

“eh? Lumayan Naf” senyumku sembari menyembunyikan buku yang ku baca.

“Naf, aku ingin cerita padamu” pintaku

Nafisah Mutmainnah adalah teman dekatku. Ia anak orang kaya tetapi ia anak yang baik dan rendah diri. Ia dari fakultas ekonomi jusrusan ekonomi syariah. Ia juga berkeyakinan Islam. Cara berpakaiannya juga sangatlah sopan sesuai yang diajarkan agamanya. Itulah yang membuatku terasa nyaman jika bersama Nafisah dan Harits. Meskipun kita berdua berbeda keyakinan tetapi tak ada sekat diantara kami untuk saling berbagi. Aku sangat menghargai Nafisah.. dan begitu pun dia.

“iya Mei, apa yang ingin kau ceritakan padaku?” tanyanya lembut

“eh anu Naf..” jawabku ragu

“loh? Ko gugup gitu Mei?”

“um..aku..aku ingin masuk Islam” jawabku berani

“hah?! Serius? Kamu bercanda?” kaget Nafisah

“tidak Naf. Aku serius. Nanti siang aku akan menemui Harits dan aku ingin dia mengislamkan diriku”

“Harits yang lelaki pendiam itu? mengapa kau ingin menemuinya?” tanyanya penasaran

“karena dirinya yang telah membuatku merasa nyaman dengan keadaannya. Dan aku juga akan belajar berhijab padamu setelah Harits mengislamkanku.” Jelasku lebar

“subhanallah allahuakbar” jawab Nafisah kaget

“doakan dan tuntun aku ya Naf agar aku tetap selalu istiqomah” pintaku

“aku selalu mendoakanmu Mei. Tapi, bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Nafisah serius

“aku belum tau gimana reaksi mereka” aku menunduduk

“ya sudah, nanti kalau ada apa-apa insya allah aku bantu. oh iya Mei, jam 2 nanti aku ada acara di undang oleh yayasan Al-Ghazali. Bagaimana denganmu?”

“oh hebat ya kamu.. aku mungkin akan menunggu Harits” senyumku

“kalau begitu aku pamit ya Mei. Nanti aku ajarin kamu berhijab yang benar. “ senyumnya seraya pamit

 

***

 

Sudah menjelang ashar tapi Harits belum juga muncul. Apa dia sudah pergi?Ketika aku ingin pergi ke kelasnya, ia muncul. Dan segera aku menghampirinya.

“assalamualaykum” kataku yang selalu kudengar orang Islam mengucapkan salam

“walaikumsalam. Ada apa ukhti?” tanyanya santai meskipun aku tidak tahu apa arti “ukhti”

“boleh saya minta waktunya sebentar?”

“boleh. Tapi ada apa ya?” pandangannya tetap seperti dulu

“um..saya ingin berbicara sesuatu yang sangat serius. Tapi sepertinya apa tidak mengganggu? Bagaimana kalau setelah anda sholat ashar?”

“astagfirullah..iya ukhti, saya melaksanakan sembahyang dulu. Setelah itu nanti kita bicarakan masalahmu”

 

***

 

Sudah dua bulan ini aku memeluk Islam. Kini namaku berganti menjadi Zulfah Qonitah. Murobiku yang memberi nama islam ini. Meski semua orang tidak tahu tapi orang terdekatku memanggilku dengan Zulfah. Aku merasa nyaman dengan hidupku sekarang. Hidupku yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ada kedamaian yang mengalir dalam qalbu dan jiwa. Ketika awal aku masuk islam dan berhijab, berita itu sudah menyebar hingga ke pelosok kampus. Mereka yang diluar sana tidak pernah menduga hal ini. Jika ada yang bertanya aku hanya menjawab “alhamdulillah Allah telah membukakan pintu hatiku” seraya tersenyum. Dan orang tuaku belum mengetahui keislamanku. Aku tahu, jika mereka tahu akan hal ini pastilah mereka akan marah besar. Tetapi ada sesuatu yang mendorongku agar aku memberikan kabarku sekarang kepada orang tuaku atau aku pulang ke rumah menemui mama dan babaku. Ya, aku harus menemui mereka. Aku akan menceritakan hidupku yang bahagia ini.Aku pun sering di ajak Haris dan Nafisah pergi ke tempat pengajian atau tempat-tempat islami. Dan aku lebih dekat dengan Harits karena selalu bersama dalam menjalankan program keagamaan di kampus atau pun di luar kampus. Aku masuk islam bukan karena aku ingin dekat dengan Harits, tetapi Allah memberikan aku kesadaran lewat Harits dan Nafisah. Adapun perasaanku terhadap Harits, itu hanya anugerah dari Allah. Kini aku tidak ingin mengharapkannya lebih karena aku takut diriku terkuasai oleh nafsu setan.

 

***

 

Seminggu setelah aku berpikir matang, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke Jakarta menemui mama dan babaku. Disepanjang jalan aku memikirkan bagaimana jika orangtuaku marah? Bagaimana jika mereka tidak merestui keislamanku? Dan sejuta tanya aku kubur dengan tilawah al-quran untuk menghilangkan keresahan dalam hati ini. Dan bus pun melaju dengan tersendat dengan kemacetannya.

Tok..tok..

“assalamualaikum”

“siapa ya?” tanya babaku

“ini Mei baba, Saputri Meilani putri baba” senyumku meyakinkan

“Mei? Mengapa kau berpakaian seperti ini?” tanya baba tak percaya.

Aku tahu babaku kaget dengan keadaanku. Tetapi, aku mencoba untuk tenang.

“baba, bagaimana kabarnya? Mei kesini ingin sekali bertemu dengan mama dan baba. Mei rindu”

“tunggu. Apa kamu masuk islam dengan pakaian seperti ini?

”Sontak, ada kegugupan didalam diri ini ketika babaku menanyakan hal itu. Allah, bagaimana?

“jawab Mei !” suara babaku mulai meninggi sehingga mama pun keluar

“ada apa ba? Siapa tamu itu?”

“mama, ini Mei.” Kataku

“Mei?” mama langsung memelukku dan menciumku

“mei, jawab pertanyaan baba. Apa kamu memeluk islam?”

Sepertinya baba ngotot ingin mengetahui hal itu. mama langsung melepaskan pelukannya.

“i…i..iy..a” jawabku ragu

“apa alasan kamu masuk islam? Hah?!” bentak baba

“a..aku masuk islam karena..aku menemukan suatu kedamaian yang belum pernah aku rasakan sebelumnya di hidupku ini” jelasku tenang tetapi menghormati beliau

“pergi kamu dari sini! Kamu tidak tau diuntung dan tidak bisa dipercaya!.” babaku langsung menamparku dan mengusirku

“tapi baba…” tangisku

“sudahlah baba, Mei juga kan anak kita” mama mohonkan ampun atas diriku

“aku tidak ingin punya anak yang durhaka sepertimu. Jika kau kembali lagi kepada agama sebelummu maka aku akan mengakuimu lagi sebagai anak. Tetapi jika kamu tetap dengan muslimmu maka kamu harus pergi dari rumah ini!”

“baba…” mama kaget dengan ucapan baba

“biarkan saja. Tak usah kau pedulikan anak itu!”

Baba dan mama masuk ke dalam rumah. Pintu tertutup rapat. Setelah baba mengusirku, mama dan baba masuk ke dalam rumah. Aku tahu ada segenap kekecewaan di raut mama. Aku tahu mama pedulikanku. Tapi, beliau tidak bisa berbuat selain menangis dan menyesali akan perbuatanku. Aku terima kemarahan orang tuaku. Dan aku juga tak ingin kembali ke hidupku dulu yang kelam karena ku yakin Islam adalah jalan yang lurus. Sejenak aku memandangi rumah orangtuaku. Rumah dimana aku pernah dibesarkan orangtuaku. Allah, dosakah aku? Lalu aku pun pergi dengan tangis.Sekarang aku sebatang kara. Sanak saudara pun pasti tidak akan menerima keadaanku. Aku yakin aku tidak sendiri, ada Allah bersamaku. Aku menghela nafas. Aku harus kuat dan tegar. Ku beritahu reaksi orangtuaku tentang keislamanku pada Nafisah lewat sms. Dia menasehatiku, mensupportku, menghiburku agar aku tabah.

“Sabar ya Zul. Ini semua ujian dari Allah untukmu. Allah ingin tahu seberapa istiqomahnya kamu memgang ajaran Islam. Allah ingin tahu seberapa seriusnya kamu memeluk Islam. Dan Allah juga pasti akan membukakan hati orangtuamu”

Begitulah smsnya. –Lagi- menyejukkan hati ini.

 

***

 

Hari ini tidak ada jadwal di kampus akan tetapi aku ada acara liqo di masjid an-nur. Kami sekelompok sudah berjanji mulai pukul 9 pagi. Ketika aku sedang membereskan kamarku terdengar suara ketukan pintu.

“neng..neng mei”

“oh iya bu.”

“neng, mohon maaf. Ibu kesini untuk memberitahu kalau pembayaran bulan ini bagaimana?”

“hm…tolong kasih saya waktu bu untuk mencari uang untuk bayaran.”

“yasudah ibu tunggu bulan depan. Tapi jangan lupa dengan uang untuk bulan depannya”

“oh iya ibu. Terima kasih”

Bulan ini aku belum membayar uang kontrakan. Aku tidak mempunyai uang. Sedangkan pemilik rumah sudah menagihnya. Orangtuaku juga tidak mentransferku sepeser pun. Sepertinya mama dan baba benar-benar marah. Kalau aku tidak punya penghasilan sendiri, maka aku harus keluar dari rumah ini. Aku ingin mencari pekerjaan yang setidaknya dapat meringankan ekonomiku saat ini.Sore harinya, pemilik kontrakanku datang kembali kepadaku. Beliau memberikan sepucuk surat. Surat? Tertulis dari Harits. Tumben sekali…

Salam ukhuwah

Assalamualaykumwarrahmatullahi wabarakatuh.

Ukhti, bagaimana kabarnya? Bagaimana dengan keislamannya sekarang? Semoga tetap istiqomah. Amiiin..Ukhti, saya dengar ada masalah dengan orang tua. Saya tahu perasaan ukhti dan orangtua ukhti. Mereka pasti kecewa karena mereka telah berjasa membesarkanmu. Afwan, bukannya saya ikut campur tetapi saya sarankan agar iman keislaman ukhti tidak surut karena suatu perkara. Doakan saja semoga oarng tua ukhti mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Allah akan membantumu menyelesaikan masalah. Karena Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya.Adapun dengan kedatangan surat ini, ada sesuatu hal yang serius yang ingin saya sampaikan pada ukhti. Saya mendapat hidayah dari Allah untuk meminang ukhti. Saya tahu ukhti adalah wanita yang sholehah. Saya mencintai ukhti karena Allah. Saya telah izin pada allah untuk meminang ukhti. Saya telah beristikhoroh dan alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk bersama ukhti. Ini semua karena kasih sayang yang dianugerahkan Allah kepada saya. Adapun diterima atau tidaknya pinangan saya, itu saya serahkan kepada ukhti agar membalas surat saya. Jika ukhti menerima pinangan saya, insya allah satu minggu kedepan setelah ukhti membalas surat dari saya, saya dan orangtua beserta murobi akan datang ke rumah ukhti.Mungkin hanya ini yang dapat saya tulis dalam surat. Mohon maaf jika kedatangan surat ini mengganggu ukhti.

Wassalamualaikum.wr.wb

 

Setelah 3 hari aku pun membalas surat dari Harits.

 

Walaikumsalamwarrahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih akhi atas dukungan dan dorongan selama ini. Insya Allah saya akan tetap tegar dan istiqomah dengan keislaman saya sekarang.Sungguh suatu kehormatan bagi saya ketika membaca kabar gembira ini. Jika nama akhi tertulis di Lauhul Mahfudz untuk diri ini maka rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita masing-masing. Jika engkau ingin bersama saya dalam perjalanan hidup ini maka bimbinglah saya. Dan Allah pun telah menunjukan kepada saya agar menerima lamaran akhi.Insya Allah saya akan tunggu kedatangan silaturahmi dari akhi dan keluarga.

Wassalamualaikum.wr.wb

 

Satu minggu setelah suratku diberikan kepada Harits melalui murobinya, Harits pun datang ke kontrakanku dengan orangtuanya. Dan aku pun meminta Bella dan murobiku untuk mendampingiku ibu pemilik kontrakanku juga ikut hadir mendampingi.Tidak begitu spesial. Jamuan pun seadanya. Hanya ada kue bolu, kue aster, pastel, dan sejenisnya. Setelah lama membicarakan soal lamaran, Harits meminta agar langsung melanjutkan ke acara walimatul ursy saja agar jarak dari ikatan lamarannya tidak terlalu lama.

 

 

***

 

H-7 menuju pernikahanku. Aku masih menyimapan undangan untuk kedua orangtuaku. Aku berniat untuk mengundang mereka di acara pernikahanku nanti. Atas saran dari Harits untuk mengundang orangtuaku, akhirnya aku mengirim undang pernikahanku lewat pos.

Di waktu yang sebentar lagi menjelang pernikahanku, aku masih saja sibuk dengan kuliah dan dakwahku. Bagiku, pernikahan itu tidak harus mewah. Karena yang terpenting adalah akad dan wali saksi. Menikah juga tidak hanya sekedar kata “Aku Mencintaimu” namun lebih kepada “aku siap membangun peradaban Islam dengan calonku”. Itulah arti menikah bagiku.Sampai saat ini pun aku belum mendapatkan kabar dari orangtuaku. Apakah undangan tersebut sudah sampai pada alamatnya ataukah orangtuaku saja yang tidak menggubris sedikit pun pernikahanku.Aku tak pernah tampakan gurat raut wajah yang sendu. Kucurahkan pada Rabbku. Kalau pun orangtuaku sudah benar-benar tidak menganggapku lagi, mungkin itulah jalan yang terbaiknya. Tetapi, aku tetap mengakui mereka sebagai orangtuaku meski masih dalam keadaan non islam.

 

***

 

Pukul 2 siang ini aku ada acara dengan Nafisah. Seusai jam kelas kami berjanji bertemu di mesjid kampus dan pergi untuk makan siang. Dan setelah itu kami pergi menghadiri acara sosialisasi di panti asuhan Kasih Ibu Bandung.

“sudah, aku saja yang traktir” kata Nafisah

“eh? Kenapa? Aduh biar aku saja Naf”

“Zul, alhamdulillah aku ini sedang ada rejeki. Aku ingin sekali memberi. Jadi, jangan halangkan aku bersedekah dan jangan menolak rejeki Allah” bujuk Nafisah

“yasudah kalau begitu terima kasih ya Bel. Kamu itu bisa saja membujuknya”Nafisah mencibirku dan kami bercanda bahagia.

Di sela kebahagiaan kami yang tengah asyik santai, handphoneku bunyi. Kulihat nomer yang ku kenal. Ustadzah Zahra. Ada apa ya beliau menelepon?

“Naf, sebentar ya, murobiku nelpon” aku beranjak dari dudukku

“ok”

Setelah usai menelepon, Nafisah melihat raut mukaku yang kusut. Tersirat ada rasa kekecewaan dalam diriku. Aku memeluk Nafisah erat. Erat dengan peluh tangis yang tak bisa ku tahan. Ku lihat sekeliling,orang memandangku dengan penuh tanya. Ku hiraukan mereka.

“ada apa zul?” tanya Nafisah.

Tetapi aku tak menjawab.Nafisah membiarkanku menangis dalam peluknya. Dia sarankan agar pergi ke mobilnya supaya tenang. Setelah aku dan dia masuk mobil, aku masih terisak.

“ada masalah apa zul?” tanyanya lagi

“Naf..Harits..” aku tak bisa melanjutkan ceritaku.

“Harits kenapa zul? Aku tak mengerti ceritamu.”

“harits..dia kecelakaan Naf. Ketika ia dibawa ke rumah sakit, ia tidak tertolong. Dan Allah mengambilnya” tangisku semakin memecah suasana

“innalillahi wa innailaihi roji’un. Masya Allah, sabar ukhtiku. Ini semua khendek-Nya dan kita tidak bisa membantah apa yang telah Allah tetapkan. Sekarang mari kita ke rumah Harits saja” Nafisah memelukku, lalu ia pun ikut menangis.

Mazda melaju dengan cepat. Kami mambatalkan untuk pergi ke panti asuhan Kasih Ibu Bandung. Selama perjalanan aku beristighfar. Begitu pun dengan Nafisah. Mencoba membuatku tegar dan tenang.

 

***

 

Nafisah memarkirkan mobilnya. Aku langsung pergi keluar dan ingin segera menemui calon yang telah meminangku.

“Zulfah” peluk ustadzah Zahra

“Harits dimana?” tanyaku

“di dalam. Masuk saja, ada orangtuanya” tunjuk beliau sembari mengantarkanku

Kini seorang lelaki yang dahulu aku idamkan terkujur tak berdaya di depan mataku. Ia sudah memejamkan matanya, tidur untuk selamanya, meninggalkanku dan semua orang yang mengenalinya. Kepalanya dibaluti dengan perban. Kakinya patah. Dan nafas yang dibantu dengan oksigen. Aku kembali menitikan mata. Memeluk ustadzah Zahra.

“sabar nak” beliau mencoba menenangkanku

 

***

 

15 Februari 2008

Ya Rabb…

Terima kasih engkau telah kirimkan

Dia untukku..

Dia yang menenangkan hatiku…

Dia yang selalu menjaga keimananku..

Dia yang selalu mengingatkan kepadaku sholat..

Dia yang selalu mengajariku

Bagaimana aku harus bersabar..

Dia yang membuatku menangis karenaTakut kepada-Mu..

Dia yang mengajariku bagaimana cara berhijab..

Dia yang menjaga agama-Mu..

Dia yang selalu berdoa untuk keluarganya..

Dia yang selalu taat kepada Ayah Ibunya..

Dia yang tak pernah meninggalkan sholat…

Dia yang selalu berbicara sopan.

.Dan dia yang selalu bijaksana..

Sesungguhnya aku menjaga seutuhnya diriku untuknya..

 

Dan kini, aku kembali mendapat musibah lagi. Aku harus menghadapi semuanya. Meski hati ini terkoyak, tidak ada pilihan bagiku selain tegar untuk menghadapinya. Keadaan memaksaku harus kuat meski aku tak mampu. Aku telah berusaha untuk menjadi muslim yang kaaffah. Semua ini hidayah dari Allah melalui Harits. Jika aku berputus asa maka aku termasuk orang yang merugi. Bukankah allah selalu bersama kita? Memberikan yang terbaik untuk kita, memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Hamasah !

Laa tahzan innallaha ma’ana :’)

***

END

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s