Cinta Sesaat

“Aaaaaaarrrggghh…..saya benar-benar sedih… Entah kenapa pacar saya mutusin saya begitu saja, padahal saya masih sayang padanya. Saya ingin sekali berteriak.”

Curahan seorang wanita yang sedang patah hati karena di putusin pacarnya itu menangis tersedu-sedu.

“Cinta itu bagaikan pedang bermata dua. Jika kita tidak hati-hati dalam pemakaiannya maka ia akan melukai diri kita sendiri, atau pun orang lain yang kita sayangi. Sekarang, silahkan anda keluarkan semua teriakan hati anda, nangis sekencang-kencangnya agar anda lega.” Ujar psikiater cinta

 

Suasana di ruangan psikiater cinta itu bener-bener ramai akan pasien yang patah hati atas penyesalan cinta yang salah. Psikiater itu menasehati, dan memberikan solusi. Memang cinta itu menyakitkan akan tetapi disisi lain cinta itu begitu indah. –Mungkin-. Karena yang aku rasakan kini tidak seperti wanita malang itu dan semoga saja aku tidak mengalami hal seperti itu.

***

“Aduuuh lebay, ga  banget deh” komenku sinis

“Apa sih Ra? Biasa aja kale”

“Sera, yang harusnya biasa tuh mereka. Gitu aja ko ampe histeris”

“Ya wajar lah Ra, mereka kan hanya mengeluarkan unek-unek”

‘Huh..ribet amat deh”

‘Lu juga bisa ke psikiater itu kalau ntar lu lagi patah hati”

“Hah ? O to the G to the A to the H.” Cibirku pada Sera

“Yeeey..udah ah buruan gua laper nih..”

“Iya gue juga, mau makan apa kita ?”

“Nasi goreng !” kata Sera

“Gue pengen pizza !” kataku beda pendapat

“Nasi goreng !” Sera tetap ngotot

“Pizza !” aku pun tak mau kalah

Bruk !!!!

Tanpa sengaja mobil bermerek BMW menyerempet Rara sehingga Rara jatuh. Lalu seorang pria dewasa yang tampan keluar dari mobil itu. Dia begitu keren, memakai kaca mata hitam, memakai jas,  berwibawa dan baik hati.

“Ra, lu ga apa-apa kan?”

“Aduuh saya minta maaf ya tadi saya ga sengaja. Kamu ga apa-apa kan?”

Rara yang tadinya kesel berniat ingin memaki-maki tapi ketika melihat wajah tampan lelaki itu ia hanya diam dan memandanginya tanpa disadari lukanya.

“Hey ko ngelamun? Oh ya saya ambilkan dulu plester ya”

Lelaki itu masuk ke dalam mobil mengambil plester dan obat betadine. Setelah selesei mengobati, lelaki itu kembali meminta maaf dan pamit untuk pergi. Dan begitu pun dengan Rara, ia meminta maaf karena telah salah bercanda di jalanan.

“Ya ampuun ganteng banget cowok itu” pujiku

“Siapa?”

“Ya cowok itu lah Ser”

“Haaah??”

“aduuh lupa nanyain namanya”

“Hello..Alex mau di kemanain ?”

“Oh iya ya…hehe”

“Huh dasar..”

 

***

 

“Eh Ra, ngomong-ngomong lu yakin sama omongannya si Alex?”

“Maksud lo?” tanyaku heran

“Ya dia kan ga bisa nemenin lu jalan”

“ooh…iya lah, gue percaya ko kalau dia tuh lagi sakit”

“Ko lu percaya aja sih?”

“Lah emangnya kenapa sih?”

“Terus kalau Alex cowok lu itu lagi sakit, itu siapa dong?”

“Apaan sih Ser?”

“Itu liat Ra !”

“Hah? Itu kan Alex Ser”

“sabar Ra, jangan langsung nyarbot ntar tambah berabe”

“Bodo! Siapa lagi tuh cewek, kurang asem!”

“Ra..”

Aku ga bisa nahan emosi. Cewek mana coba yang pengen di dua tiga in. Tanpa mempedulikan sekitar aku menemui Alex dan cewek genit itu yang sedang melihat-lihat acsessoris. Plak !. Tamparan yang cukup keras dari tangan kananku membuat Alex kaget dan kesakitan.

“Loh Rara, ko kamu ada di sini?”

“Harusnya aku yang nanya, katanya kamu sakit tapi kenapa malah jalan sama orang lain. Siapa cewek ini?”

“hey..gue Nisa, pacarnya Alex. Lo mantannya Alex kan?”

“Apa mantan? Gue Rara, masih pacarnya dia”

“hah? Tapi dia bilang….”

“Dasar playboy! Kita putus !”

“Tapi Ra..”

“Kita juga putus!”

“eh…tunggu penjelasan aku dulu!”

“Emang enak! Playboy sih lu” ejek Sera

“Ser, tunggu Ser”

“Wleee….” cibir Sera

“Aaah sial !”

 

***

 

Sore ini aku habiskain waktuku di taman rumah sambil memberi makan. Lebih asyik kan di banding jalan dengan pacar? Biasanya jam segini Alex selalu mengajakku untuk jogging. Lalu kita makan di resto bunaya sambil bercanda dan tertawa. Hm…lupakan! Tak penting bagiku untuk di kenang..

Mobil BMW berwarna merah parkir di depan rumahku. Ketika keluar dari mobil tampak seorang pemuda yang sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Ya, aku pernah bertemu dengannya di Mall. Dia kan orang yang menabrakku tadi siang. Hm..ada apa ya dia ke rumahku? Aku semakin bingung ketika kakak ku, kak Mesya segera menghampiri pemuda itu.

“Hey sayang, sudah pulang?”

“Iya, setelah pekerjaanku selesai aku cepat-cepat pergi ke sini. Aku kangen sekali sama kamu”

“Aku juga kangen. Kamu libur berapa minggu?”

“Aku hanya libur satu minggu setelah itu mungkin aku balik lagi ke Jakarta”

“Hm..”

“Jangan sedih dong sayang, sekarang lebih baik kita senang-senang aja dulu mumpung aku lagi disini”

Oh ternyata pacarnya kak Mesya. Hm…padahal kan aku naksir dia. Huh sebel ! gumamku..

“Eh kamu?” sapa Mas Yoga menyapaku heran

“Loh kalian sudah saling kenal?” heran kak Mesya

“em..iya kak, tadi siang aku…(sambil menunjukan luka yg kena tabrak)”

“Oh jadi kamu yang nabrak ade aku”

“hm..iya sayang tapi aku bener-bener ga sengaja”

“woooo…”

“Loh ada Yoga. Kapan dateng nak? Mesya, ko ga di ajak masuk? Ngobrolnya di dalam saja” ajak mamah

“eh Mamah, iya Mah..”

 

***

 

“Ra…Rara…”

Siapa sih yang manggil-manggil, ga sopan banget keras-keras. Tapi ko suaranya kaya ga asing. Aku bergegas menghampiri suara tersebut. Benar dugaankku ternyata Alex yang datang. Aku mencoba menghindarinya dan menutup kembali pintu rumah tetapi dorongan Alex lebih kuat.

“Ada apa kamu kesini?”

“Ra, plis dengerin aku dulu”

“udah lah, kita udah putus. Jangan ganggu aku lagi”

“aku udah mutusin Nisa, aku Cuma pengen sama kamu. Plis Ra…”

“Maaf,, aku lagi ga mau pacaran”

“Ra..”

Alex mencoba meraih tanganku dan menggenggamnya, tapi aku berusaha keras untuk menghindarinya. Aku di tarik dengan cara kasar hingga tanganku kesakitan dan aku pun menjerit. Untungnya ada Mas Yoga yang menghentikan.

“hey kamu lepaskan dia! Kalau sudah putus ya sudah jangan ganggu dia lagi. Pergi kamu!”

“cepat pergi, atau mau saya hajar”

Dan Alex pun pergi dengan rasa kesal dan menyesal. Siapa yang ga takut dengan kewibawaannya Mas Yoga? Ia begitu berkharisma dan bijaksana. Pantas saja kak Mesya begitu mencintainya. Mungkinkah aku bisa memiliki mas Yoga?

“kamu tidak apa-apa Ra?”

“eh? Oh iya baik-baik aja ko Mas”

“lain kali cari pacar yang baik, tidak seperti mantan kamu itu yang kasar.”

“eh ko tau itu mantan aku mas?”

“iya tadi sedikit mendengar pembicaraan kalian. Masuk yuk”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

 

***

 

“tau ga sih Ser? Cowok yang nabrak gue kemaren siang itu ternyata pacarnya kak Mesya.”

“hah serius lo?”

“iyaa..sebel banget gue..”

“loh sebel kenapa? Ya bagus dong..”

“gue kan naksir dia Ser”

“apa ? rara…!”

“kenapa?”

“lo ga bercanda kan?”

“ngga, apa salah kalau gue naksir sama pacar kakak gue sendiri?”

“iya salah lah Ra..Dia kan pacar kakak lo”

“bodo amat yang penting gue bisa dapetin Mas Yoga”

“Ra, lu sadar ga sih kalau lu kaya gitu lo sama aja kaya tante gue yang dulu kegenitan sama bokap gue. Murahan tau ! ”

“Sera, jaga mulut lo. Enak aja..Gue cuma pengen Mas Yoga jadi pacar gue aja”

“terserah deh Ra, yang pasti gue benci banget sama sifat lo yang kaya tante gue itu yang udah ngerusak hubungan bokap sama nyokap gue” kesal Sera seraya pergi.

“Eh lo mau kemana?”

Tanpa menjawab Sera langsung saja pergi meninggalkan Rara yang duduk terpaku di bangku taman itu. Ia begitu kesal dengan sikap wanita yang suka merebut dan merusak hubungan seseorang. Ya termasuk tantenya itu. Tante dari mamahnya itu mencintai papahnya Sera sehingga terjadi perselingkuhan dan akhirnya hubungan kedua orang tua Sera di akhiri dengan perceraian.

Aku mendesah kesal. Ku lemparkan batu ke dalam kolam. Percuma curhat sama sahabat sendiri pun ga mendukung. Aku pun pulang dengan hati yang gelisah.

 

***

 

Kring…suara handphone ka Mesya bunyi. Mungkin dari Mas Yoga. Tuh kan benar saja apa yang ku kira..Sepertinya nanti malam Mas Yoga akan menjemput kak Mesya untuk pergi untuk nonton. Hm..

“em..telepon dari Mas Yoga ya kak?”

“eh iya Ra…nanti malem Yoga jemput kakak buat nonton”

“ooohh” senyumku ketus

“kamu kenapa Ra? Ko mukamu seperti sedih gitu?”

“kakak, nanti mau nikah dengan mas Yoga?”

“hehe..iya pasti kakak mau lah. Kamu kenapa nanya begitu?”

“aku takut nanti kakak lupa sama aku”“hm…adikku sayang, kakak ga mungkin lupa sama kamu. Kakak janji akan selalu inget kamu, selalu sayang kamu”

“iya kak, aku tau”

“jangan sedih lagi dong” hibur kak Mesya

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab.

 

***

 

Prang…!!!

Terdengar dari dapur suara gelas pecah. Kak Mesya tidak sengaja memecahkan gelas yang berisi minuman untuk Mas Yoga. Mama, aku, dan Mas Yoga bergegas pergi ke dapur. Kami kaget, terlebih lagi Mas Yoga, karena kaki dan tangan Kak Mesya terkena luka serpihan gelas pecah sehingga kakinya berdarah dan lumayan cukup parah. Aku dan Mas Yoga cepat-cepat membawa Kak Mesya ke Rumah Sakit. Aku iri sekali dengan perhatian Mas Yoga terhadap Kak Mesya. Ia begitu khawatir dan cemas. Sepertinya ia tak ingin kehilangan Kak Mesya. Ah ada apa denganku? Dalam masalah genting gini aku masih saja sempat memikirkan Mas Yoga.

Setelah dari Rumah sakit Kak Mesya dan Mas Yoga memutuskan membatalkan kepergiannya. Ups..tapi tidak! Mas Yoga tetap pergi, tapi….

“sayang, sepertinya kita ga jadi nonton”

“um..iya sayang ga apa-apa, aku ngerti ko. Kamu kan lagi sakit”

“tapi selama kamu pulang kan aku belum nemenin kamu jalan”

“ga apa-apa sayang. Yang paling penting bagiku yaitu kesmbuhan kamu. Masalah jalan lain waktu juga bisa”

“hm…gimana kalau jalannnya digantiin sama Rara. Biar dia nemenin kamu malam ini. Ga apa-apa kan Ra?”

Sontak, aku kaget mendengar ucapannya Kak Mesya. Aku ga tau harus jawab apa. Bagaimana bisa aku mendapatkan kesempatan untuk jalan bareng Mas Yoga. Hello Ra, lo ga mimpi kan.. tanyaku dalam hati sambil mencubit tanganku. Aw… sakit.

“apa? Aku?” tanyaku kaget

“iyaa.. kenapa? Kamu kan calon ade iparnya Yoga. Jadi biar akrab gitu”

“hm..ooh ga apa-apa, bo..boleh aja Ka”

“tuh kan”

“ya udah Ra, kita anter Mesya pulang dulu setelah itu kita jalan”

“oh iya Mas” anggukku

Sesampainya di rumah Mas Yoga memonggok Kak Mesya, dibantu dengan papah. Aku menunggu di dalam mobil. Tak lama, mas Yoga keluar dan masuk mobil. Ia mulai menstarter mobilnya. Aku mulai merasa deg-deg an. Kami mulai jalan, entah mau dibawa kemana aku pergi. Tak sepatah kata pun mas Yoga bicara padaku. Aku bingung bercampur senang. Tuhan tolong aku. Aku tak tau harus bagaimana. Apakah aku yang harus memulai bicara terlebih dahulu? Apa aku meminta Mas Yoga untuk memutarkan lagu klasik dalam mobil agar terlihat lebih asyik? Atau..

“ra, kamu maunya kita kemana nih?”

Ah..! akhirnya ia bicara juga. Dari tadi kek biar ga bingung. Fiuuh… :$:3:#

“eh? Hm..gimana mas Yoga aja deh”

“loh ko terserah Mas sih? Ya udah kita mampir di nasi goreng aja ya”

“dimana tuh Mas?”

“di deket Carrefour. Nasi gorengnya enak loh. Banyak anak muda yang sering mampir disana.”

“boleh mas boleh”

Segera kami cuus kesana…

 

Nasi goreng dua telah terhidang di meja. Segera aku makan. Mungkin karena aku belum makan dari siang jadi aku merasa kelaparan. Ternyata nasi goreng yang dikatakan Mas Yoga itu beneran enak.

Uhuk..aku tersedak.

“ya ampun pelan-pelan dong Ra.” Mas Yoga memberikan minum.

“iya Mas. Enak banget sih nasi gorengnya”

“ya emang. Mas kan ga pernah bohong.”

Setelah selesei makan kami langsung pulang ke rumah karena sudah malam. Sebenarnya aku masih ingin lama berdua begini dengan Mas Yoga. Tuhan, semoga aku bisa seperti ini lagi. Gumamku.

 

***

 

“Mah, undangan ini sepertinya kurang menarik”

“Ya sudah nanti kamu bicarakan lagi dengan Yoga.”

Terdengar obrolan Kak Mesya dengan Mamah di luar. Aku segera nyelonong berangkat sekolah. Aku tak ingin berbicara sepatah kata pun pada Kak Mesya. Mungkin ada rasa kecewa dengan hubungan Kak Mesya dan Mas Yoga yang 1 bulan lagi akan resmi menikah.

“Ra, ko ga pamitan sama mamah?”

Aku memutar balik badan dan menghampiri mamah dan Kak Mesya.

“kamu kenapa kok tampaknya cemberut?” tanya mamah

“hm..liat deh Ra, undangan pernikahan kakak menurutmu bagaimana?” tanya Kak Mesya

Aku langsung pergi tanpa menjawab. Aku tidak suka jika Kak Mesya jadi menikah dengan Mas Yoga. Aku ingin semua rencananya batal.

“Rara..” panggil mamah

“Sudah lah mah”

“kenapa dia aneh sekali ya?” tanya mamah heran

“ya mungkin dia belum siap jika aku menikah dengan Yoga. Dia pernah bilang kalau aku takut melupakannya. Suatu saat juga dia pasti menerima ko mah”

“aneh-aneh saja anak itu”

 

***

 

Malam ini diadakan acara makan malam bersama keluargaku dan keluarga Mas Yoga. Kak Mesya dan Mas Yoga ingin mengutarakan pernikahannya kepada dua belah pihak dan meminta persetujuan dan doa dari orangtua masing-masing. Tepat pukul 8 semua sudah berkumpul dan rapi terkecuali aku. Aku masih mendekam di dalam kamar. Aku tidak siap untuk keluar.

“Ra..Raraa” panggil mamah di balik pintu

Aku tak menjawab. Karena memang aku tak ingin keluar.

“Ra, kamu lagi ngapain sih? Kamu udah selesei belum? Semuanya sudah rapih di bawah, tinggal menunggu kamu saja”

Ah mungkin aku utarakan saja perasaanku saat ini. Aku tak peduli apa yang akan terjadi. Aku ingin Mas Yoga menjadi milikku. Aku segera keluar membukakan pintu.

“kamu ini lama sekali. Ayo sudah ditunggu”

“iya mah”

 

“Nah, sekarang kita sudah kumpul semua”

“baiklah, sebelum makan malam dimulai, aku ingin mengutarakan maksud baikku ini.”

Semua orang tersenyum, tidak sabar apa yang akan dibicarakan Mas Yoga. Terutama Kak Mesya.

“begini om, saya bermaksud ingin mempersunting Mesya sebagai istriku”

“Saya, sebagai papahnya Mesya sudah merestui hubungan kalian.”

“tunggu pah, aku ingin bicara sesuatu.”

Bagaimana aku harus memulai? Apa kuurungkan saja?

“aku tidak setuju jika Kak Mesya dan Mas Yoga menikah”

Semua orang yang ada di ruang makan itu kaget tidak percaya. Mengapa aku sebagai adiknya Mesya tidak merestui?

“aku…aku mencintai Mas Yoga !” lanjutku

“Rara !” bentak mamah

“apa maksudmu?” tanya papah

Kak Mesya tampak begitu kaget. Ia shock dan asmanya kambuh ketika mendengar pembicaraanku tadi. Papah segera membawa Kak Mesya ke rumah sakit. Aku segera pergi ke belakang menuju taman. Ku tingal kan mereka yang belum memulai acara makan malam. Mungkin acara ini berantakan karena ucapanku tadi. Ya setidaknya aku ingin Mas Yoga tahu apa yang selama ini aku pendam. Aku menangis dibawah langitnya malam.

“Rara”

Kulihat Mas Yoga menghampiriku. Aku kembali membuang muka.

“Rara..Mas tau perasaanmu. Tapi kebaikan Mas selama ini sama kamu itu hanyalah sebatas adek”

“Mas, aku mencintai Mas Yoga. Aku sayang sama Mas”

“Mas tau Ra. Mas juga sayang sama kamu. Tapi sayang Mas itu hanya sebagai ade. Kamu kan adiknya Mesya, jadi Mas juga harus sayang sama kamu” jelas Mas Yoga

“Mas Yoga itu ga pernah ngerti ya perasaan aku” aku pergi ke kamar meninggalkan Mas Yoga.

 

***

 

“Ser, lo masih marah sama gue?” aku coba deketin Sera

“Gue tau gue salah, Ser. Gue minta maaf. Tapi gue bener-bener butuh lo. Gue butuh sahabat yang bisa nasehatin gue” kali ini aku nangis.

“Ra, gue juga minta maaf ya. Gue pasti bantu lo ko.” Kali ini Sera tak menghindar dariku.

Setelah itu, aku menceritakan semua permasalahanku pada Sera. Sera pun kaget tak percaya ternyata aku sudah sejauh itu membuat masalah. Tapi aku bersyukur, Sera tidak membenciku kali ini. Ia bahkan ingin membantuku menyelesaikan masalahku ini.

“parah ! Ra, gimana kalo lo pergi ke psikiater?” usul Sera

“hah? Lo gila !”

“kenapa? Biar semuanya selesei Ra”

Aku terdiam. Okey, kali ini aku ikuti saran Sera. Dulu mungkin aku mengecam tak akan masuk ke ruang psikiater itu. Tapi sekarang? Oh Tuhan, aku bener-bener membutuhkan psikiater itu.

Setelah itu, aku dan Sera pergi menuju tempat psikiater dekat Mall itu.

“Ser, lo yakin?”

“udah sono masuk” dorong Sera

Aku pun masuk. Aku sedikit ragu untuk berkonsultasi. Aku hanya tidak ingin masalahku membuat semua orang lain tahu. Awalnya kau berbasa-basi terlebih dahulu agar tidak terasa canggung atau malu.

“lalu sekarang apa permasalahanmu?” tanya psikiater

Lalu aku pun menceritakan dan menjelaskan semua masalahku yang mencintai orang yang sudah punya kekasih. Ya itu pacar Kak Mesya.

Ku lihat psikater itu mengangguk-angguk seraya menulis mendengarkan curhatku.

“oh begitu. Permasalahanmu cukup rumit ya dan kamu pun sudah terlanjur jauh dengan perasaan itu”

“aku harap anda bisa membantu saya menyelesaikan masalah ini” mohonku

“ya saya pasti akan membantu anda. Rara, saya tidak menyalahkan anda yang sudah jatuh cinta pada pacarnya kakakmu itu. Tetapi yang saya salahkan yaitu cara kamu mencintainya. Kamu mencintainya terlalu berlebihan. Coba kamu pikirkan jika kamu hanya memenuhi egomu. Berapa banyak orang yang kamu kecewakan karena ulahmu? Kakakmu pasti akan sedih sekali. Orangtua mu juga pasti akan kecewa terhadapmu. Dan kalau pun siapa nama pacar kakakmu itu?” psikiater itu mencoba mengingat nama Mas Yoga

“Mas Yoga”

“ah iya. Kalau pun Yoga jadi pacarmu, belum tentu ia mencintaimu. Ia hanya mencintaimu sekedar calon adik ipar. Semua orang pasti akan mengalah demi kamu meskipun mereka kecewa. Apa kamu tidak kasihan pada keluargamu? Cinta yang tumbuh di hatimu kini sudah melukai banyak orang, terutama kakakmu.”

Sudah satu jam lebih psikiater itu memberikan nasihat yang cukup membuatku berpikir lebih jauh. Kini bebanku sudah agak terkurang. Sudah jam 4 sore, aku izin pamit. Dan aku meminta agar besok bisa berkonsultasi lagi.

“mungkin besok saya ada waktu jam 10 siang. Bagaimana jika di taman saja supaya terbawa rileks juga?”

“oh baik lah kalau begitu”

 

***

 

“dek, kamu masih marah sama kakak?” tanya kak Mesya

“eh? Ngga ko kak” aku mencoba tersenyum

“bener?”

“iya kak. Aku minta maaf ya kak soal kejadian kemarin malem”

“iya kakak ngerti ko Ra.”

Aku beruntung punya kakak seperti Kak Mesya. Ia tak punya rasa dendam sedikit pun paddaku. Aku merasa bersalah. Aku sudah membuat Kak Mesya hampir mati karenaku. Apa yang telah ku perbuat? Mungkin memang benar jika aku mencintai Mas Yoga itu salah. Aku tak mungkin merebut Mas Yoga. Semua hanya lah penyesalanku yang sudah membuat malu. Rumah kini sudah agak ramai dengan persiapan pernikahan Kak Mesya dan Mas Yoga.

 

***

 

Hari ini aku tak ada kelas di kampus. Jadwalku kosong. Tapi aku ada janji dengan psikiater itu. Ah sudah jam 9, tetapi aku masih bermalas-malasan. Aku siap-siap dan segera pergi.

“Rara, kamu mauu kemana?” tanya mamah

“aku mau ke rumah Sera dulu mah.”

“jangan lama-lama ya. Disini kamu harus ikut bantu”

“iya mom”

Besok itu acara pernikahannya kak Mesya dan Mas Yoga. Semua undangan sudah disebar. Segala persiapan sudah dipesan dengan rapi. Aku tahu aku masih memendam perasaan sesak tapi aku mencoba tersenyum. Aku ingin kembali cerita pada psikiater itu.

Aku duduk sendiri di bangku taman. Ku lihat psikiater itu belum tiba. Untung aku membawa buku. Ku kerjakan tugas dari kampus untuk mengisi waktu kosong. Aku hanya berbeda tiga tahun dari kak Mesya. Maka dari itu aku selalu menganggap diriku wajar jika mencintai Mas Yoga.

“sudah lama menunggu?” seseorang menyapaku dari belakang

“oh..tidak terlalu.”

“kamu tidak pergi ke kampus hari ini?”

“aku tak ada jam di kampus”

“oh ya, bagaimana hubunganmu dengan keluargamu sekarang?” tanya psikiater

“sudah lumayan membaik. Tapi..”

“ya, kenapa?”

“besok itu kan acara pernikahannya kakakku tapi mengapa aku begitu sedih. Padahal aku mencoba untuk tersenyum dan bahagia diantara mereka”

“saya mengerti. Anda harus mencoba sabar dan ikhlas. Kamu harus mendukung kakakmu itu untuk bahagia. Cinta itu bagaikan pedang bermata dua. Jika kita tidak hati-hati dalam pemakaiannya maka ia akan melukai diri kita sendiri, atau pun orang lain yang kita sayangi. Kamu harus tahu jika cintamu pada Mas Yoga hanya lah sesaat seperti hembusan angin. Meskipun kamu tidak memiliki Yoga sebagai pacarmu tetapi kamu memilikinya sebagai kakak iparmu” Jelas psikiater

“baiklah kalau begitu aku akan mencoba ikhlas untuk menerima semuanya. Aku akan mendukung jalannya acara pernikahan itu”

Kami lalu jalan menelusuri taman. Aku dan psikiater itu seperti sudah berteman lama. Begitu akrab. Ternyata masuk ke dalam daftar psikiater itu dapat menyembuhkan dari perangkap kegalauan.

“kamu harus percaya, jika suatu saat nanti ada yang lebih dari Yoga. Mungkin saat ini kamu belum waktunya untuk menemukannya” lagi-lagi psikiater itu menasehatiku

Ya aku tahu, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagiku. Aku memang tak tahu siapa jodohku, tetapi aku percaya akan takdirku. Aku pun sudah dewasa dan bisa berpikir lebih kritis dari sebelumnya. Masalah ini akan ku jadikan pelajaran yang berharga dalam hidupku.

 

***

 

“dek, bisa bantu Mas Yoga beresin Mesjid Al-Hikmah?”

“oh iya tentu dong kak”

Aku segera pergi ke Mesjid yang akan dijadikan akad nikah besok. Tinggal beberapa lagi yang mesti dibereskan agar semuanya tampak terlihat rapi. Cape sekali. Aku beristirahat sejenak, duduk diatas anak tangga Mesjid. Aku membayangkan betapa bahagianya Kak Mesya besok. Ia pasti tampil begitu anggun dengan gaunnya.

“Rara, lagi apa?” tanya Mas Yoga dari belakangku

“aku istirahat Mas”

“ini Mas bawakan air minum untukmu” Mas Yoga menyodorkan sekaleng pocari

“oh terimakasih Mas”

“sama-sama Ra”

“Mas, mas pernah menyangka ga kalau aku mencintai Mas?”

Kulihat Mas Yoga bingung harus mengatakan apa.

“hm..tidak.” jawabnya singkat

“mas, aku mencintai mas” tak kusadar aku memeluk erat Mas Yoga

“Ra, plis Ra lepasin. Aku takut nanti Mesya lihat.” Pinta Mas Yoga berusaha melepaskan tanganku dari pelukanku.

“tidak Mas. Aku ingin sekali memeluk Mas Yoga.”

“Rara ! Yoga !” sentak Kak Mesya.

Mas Yoga segera melepaskanku dan menyusul Kak Mesya. Aku tahu pasti Kak Mesya cemburu melihat kemesraanku dengan Mas Yoga. Kini Kak Mesya mungkin marah padaku. Bodoh ! apa yang telah ku perbuat? Aku segera pergi menemui Kak Mesya untuk meminta maaf.

“iya dek, kakak sudah maafin kamu”

“syukurlah” tangisku

 

***

 

“saya nikahkan Maulana Prayoga bin Ridwan dengan Kartika Maesya Dewi binti Arya dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai”

Mas Yoga tampak begitu fasih mengucapkan ijab kabul itu. Ia lancar tak ada kendala sedikit pun.

“sah” semua orang serempak setuju bahagia

“selamat ya Kak. Semoga kakak bahagia. Selamat juga ya Mas. Aku hm…selalu mencintai Mas Yoga”

Semua orang bengong mendengarkan ucapanku tadi.

“eitss…cinta sebatas kakak ipar maksudnya. Hihihi…” cibirku

“huu..dasar nih kamu.” Kak Mesya dan Mas Yoga langsung menggelitiku dan memelukku.

Dan akhirnya kini semua kisah cintaku berakhir dengan bahagia. Aku telah belajar ikhlas dari pengalaman ini. Bahagia bukan berati harus dimiliki oleh keseorangan. Melihat orang yang kita sayangi hidup bahagia pun itu sudah merupakan dari kebahagiaan kita. Kini, Kak Mesya dan Mas Yoga sudah resmi menjadi suami istri yang sah. Congrats ^^

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s