Sinar di Waktu Senja

Kita tak pernah tahu apa yang bisa mengubah hidup kita dalam hitungan detik, dengan siapa kita akan ditakdirkan bertemu dan siapa saja yang akan hilang dalam hidup kita. Satu hal yang pasti adalah bahwa hidup tak pernah pasti.

Seperti biasa, malam itu aku mengendarai motor dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di belakangnya terdapat Aldo yang juga tak ingin kalah. Ia memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang mungkin akan menyusulku. Balap motor adalah salah satu kegemaranku. Aku sangat menyukai dengan hobi yang menantang itu.

Dengan kilat sekitar lima menitan Aldo tertinggal jauh di belakangku. Akan tetapi aku berpikir pasti Aldo akan menyusul dan menyalipku kembali. Dengan optimis dan tekad yang tak mau kalah aku menambah kecepatan. Aku sudah hafal akan jalanan. Tak ada yang tak bersahabat denganku. Aspal licin pun aku sebrangi bagai hembusan angin malam. Sombongku dalam hati. Akan tetapi sayang sekali, ketika aku membelokkan motor setelah tikungan tajam itu, bayangan seseorang membuat diriku harus membanting motor. Aku pun terpelanting jauh dari jalan, entah kemana.

Keesokan harinya aku telah terkujur di Rumah Sakit dengan kepala yang dibaluti kassa. Tak hanya kepala saja yang terluka, hampir sebagian tubuhku luka parah. Sedikit demi sedikit aku membuka mata. Gelap. Aku menggerakan tangan tetapi terasa kaku untuk di gerakan. Begitu terasa nyeri.Terlihat seorang wanita berkerudung merah yang sedang tertidur di sampingku yang setia menemaniku. Ingin aku bertanya apa yang telah terjadi padaku.

“nak, kau sudah siuman? Sebentar ya, ibu panggilkan dokter”

Aku hanya mengangguk lemas. Ibu segera pergi keluar. Aku memutar balik otak mengingat apa yang telah terjadi tadi malam. Aku hanya ingat sedikit akan balap motor itu. Selebihnya aku tidak tahu. Otakku terasa berdenyut, entah mungkin ada yang terputus atau terganggu.

Dokter masuk tanpa mengetuk pintu diiringi ibu dari belakang dan langsung memeriksa keadaan kondisiku. Ku lihat Ibu dari tadi mengepal tangan mungkin ia berharap dan berdoa agar tidak terjadi sesuatu padaku.

Terlihat bapak yang baru pulang dari kerja sengaja menyusul ke Rumah Sakit untuk menemani aku dan ibu.

“bu, pa, bisa ikut saya sebentar ke ruangan saya?” pinta dokter

Tanpa menjawab ibu dan bapak mengangguk mengikuti perintah dokter. Dengan wajah cemas ibu tersenyum padaku memberi tanda isyarat bahwa tidak akan terjadi apapun padaku. Ah apa yang ingin dokter katakan pada mereka? Mungkinkah itu mengenai penyakitku? Mengapa dokter tak katakan saja langsung padaku? Selama hatiku bertanya, mataku terus memandangi televisi yang daritadi menanyangkan acara MotoGP. Pada urutan pertama ada Casey Stoner disusul dengan Jorge Lorenzo dan Marco Simoncelli. Ketiga pemain MotoGP itu merupakan idolaku. Kecepatan dalam balapan itu, sungguh menggugah hati. Tikungan tajam terlihat begitu indah ketika mereka berbelok. Aku tak sadarkan diri kalau aku sedang sakit. Seketika seorang pembalap terpelanting. Tak disangka dia adalah Simoncelli. Aku setengah kaget ketika melihat berita bahwa idolaku itu sudah tewas.

Kreek…suara pintu terbuka. Perlahan ia mengintip dan tersenyum padaku. Terlihat seorang gadis dengan baju selutut dan rambut terurai panjang segi, dengan poni kedepan. Aku tak mengenalinya. Sepertinya ia masih SMA. Ia masuk hanya tersenyum dan kembali keluar. Mengapa dia begitu aneh sekali? Ah sudah lah mungkin hanya orang iseng. Tetapi terdengar dari luar kamar, gadis itu sedang bercakap-cakap dengan ibu. Aku tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan karena hanya terdengar samar-samar.

Ibu dan ayah masuk ke dalam kamar dengan wajah yang berusaha tenang. Di belakangnya gadis itu mengikuti. Ingin aku bertanya pada orangtuaku mengenai penyakit yang di deritaku. Ibu menghela nafas, dan ia menjelaskan tentang kecelakaan yang menimpaku. Aku harus bersabar akan pemulihan ini. Menurut dokter, kemungkinan besar kakiku tak bisa sembuh. Aku terdiam. Ibu menitikan air mata. Bapak mencoba menenangkan ibu. Gadis itu juga menatapku datar. Ini tak mungkin, ingin rasanya aku memaki dokter yang seenaknya bicara. Tapi inilah akibat dari ulahku.

Sudah beberapa hari ini gadis itu selalu menemaniku dan aku mulai terbiasa dengannya. Namanya Senja. Ia selalu membuatku nyaman di dekatnya. Ia menemaniku ngobrol dan bercerita. Sore ini aku ditemani Senja jalan-jalan sekitar taman Rumah sakit. Tetapi aku masih heran mengapa ia begitu setia menemaniku, menjenguku dan baik kepada orangtuaku.

Dua minggu kemudian aku sudah di perbolehkan pulang meskipun masih memakai kursi roda. Itu tak masalah bagiku selama masih ada Senja di belakangku yang selalu menemani. Ku sadari hanya ibu, bapak dan Senja lah yang selalu ada di sisiku. Tak satu pun teman-temanku menjenguku. Bahkan Linda kekasihku, tak kunjung menampakan diri di hadapanku. Aku benar-benar merasa kehilangan. Tak ada yang tulus untuk di jadikan sebagai sahabat. Senja bilang mereka menjenguk ketika aku tidur. Namun aku tahu, Senja hanya lah menghiburku.

***

Sudah dua hari ini Senja tidak muncul. Biasanya ia menjenguku ke rumah. Apa dia sudah bosan? Mengapa setiap orang yang dekat denganku pergi begitu saja?

Aku ingin menangis tetapi tak bisa, bukan karena air mataku yang telah habis tapi karena aku ingin terlihat tegar dan sabar sebagai seorang jantan. Rasanya aku ingin melempar tongkat yang menopang kakiku, tetapi…

Wajahku sumringah ketika Senja berdiri tidak jauh di depanku , aku tersenyum senang. Aku urungkan niat marah yang menguasaiku. Senja menghampiriku. Dan aku langsung memeluknya erat.

“jangan tinggalkan aku, jangan kau pergi seperti yang lainnya. Aku mohon.”

“aku tidak pernah meninggalkanmu. Bukankah aku selalu menemanimu? Hm..mungkin kamu lah yang akan menyuruhku menghilang dari kehidupanmu.”

Aku mengkerutkan keningku heran.

“apa yang kau maksud? Aku sama sekali tak mengerti”

“kau tahu? Aku lah orang yang menyebabkanmu kecelakaan waktu itu. Aku yang telah membuatmu cacat seperti ini. Dan sekarang apa kamu masih ingin aku ada disini?”

Aku kaget tak percaya. Emosi yang kuurungkan tadi kembali menggencarku.

“apa? Jadi selama ini kau menemaniku dengan alasan kasihan?”

“awalnya aku memang merasa bersalah padamu tetapi mungkin Tuhan menakdirkanku untuk menemanimu”

“apa maksudmu? Setelah kau membuatku cacat seperti ini, kemudian kau ingin mengatakan bahwa kau mencintaiku?”

Senja hanya terdiam menyesal.

“apa ibu dan ayahku tahu tentang ini?”

“ya, aku sudah ceritakan pada mereka. Mereka telah memaafkanku. Tetapi aku masih merasa berdosa padamu. Jika kau memang benar-benar marah padaku, marah lah, aku akan terima”

“sudah lah pergi saja kau! Aku tidak ingin melihatmu lagi disini. Aku tidak butuh belas kasihanmu.”

Senja mengerti akan keadaanku. Ia segera pergi dengan mulut membisu. Aku tak peduli. Aku segera masuk rumah menghindari darinya. Kini dia bukan orang yang suka menemaniku lagi, ia hanya seorang yang telah menghancurkan hidupku dan harapan-harapanku.

***

Sore ini, aku pergi jalan-jalan sendiri ke Taman. Seperti biasa melihat sunset yang begitu indah. Memandang langit kuning keemasan. Imajinasiku mulai berjalan. Tapi sore kali ini langit begitu sendu, dan mungkin akan turun hujan.

“kau suka senja juga kah?” tiba-tiba seorang gadis duduk di sampingku. Senja, kembali lagi menemaniku.

“kalau iya berarti kita sama. Aku juga suka senja apalagi dibarengi hujan”

Aku hanya terdiam. Kini hanya rasa kesalku yang ada padanya.

“aku tak suka senja dan hujan! Hanya membawa kegelapan saja” jawabku singkat

“kau tau? aku suka langit dalam bentuk apapun, entah itu langit biru di siang hari atau pun langit gelap di malam hari bahkan langit mendung ketika hujan pun aku suka. Aku suka senja di sore hari ataupun fajar di pagi hari”

Senja menoleh padaku. Aku hanya memasang wajah sinis.

“aku tahu kau begitu membenciku. Tapi aku yakin kamu mempunyai hati yang luas seperti langit di sana. Jika di hatimu itu tak pernah ada maaf bagiku, maka aku pun tak akan memaksa untuk ada. Apalagi mengaharapkan cinta yang indah seperti senja. Aku hanya lah orang yang telah membuatmu celaka dan aku ibarat rasa sakit yang ada padamu.”

Aku masih diam, tak bicara sedikit pun.Senja memegang tanganku dan aku tak menghindar kali ini.

“jika suatu saat ketika aku menghilang, aku yakin ketika itu ada sesuatu yang aku temukan dalam hidup ini”

Senja tersenyum dan seraya pergi meninggalkanku sendiri dengan senja yang mulai hitam akan malam disertai gerimis.

Semenjak itu Senja tak pernah nampak lagi. Ia menghilang. Ibu dan bapak pun mengerti akan persoalan ini. Mereka memaklumi mengapa Senja tak pernah kunjung ke rumah.

***

Setahun sudah, Senja benar-benar tak kembali. Aku mencoba mencari untuk mengetahui keadaannya. Aku sudah memaafkannya dan Senja harus tahu. Aku pun sekarang sudah berjalan normal tanpa harus berjalan dengan tongkat. Chek up selalu aku laksanakan dengan rutin hingga kondisiku membaik dan kemungkinan besar aku akan pulih kembali.

Pagi ini aku harus chek up. Alangkah kagetnya ketika aku melihat sesosok gadis yang berjalan memakai kursi roda. Aku mencoba mendekat padanya.

“Senja…” panggilku lirih

Senja menoleh tersenyum padaku. Tak disangka aku masih bisa bertemu Senja, Tuhan.

“Fajar!” panggilnya tak percaya

“kenapa kamu di rumah sakit? Kamu sakit apa?”

“um..aku sakit ginjal” jawabnya berusaha tersenyum

Terlihat Senja begitu kurus dan mukanya pucat. Gadis ceria ini mengidap penyakit yang begitu keras? Tak percaya. Hatiku terenyuh ketika ia masih berusaha untuk tersenyum.

Senja tak bisa berlama mengobrol denganku. Perawat mengajaknya masuk.

Setelah dari rumah sakit, aku kemudian pulang dan malamnya aku menceritakan peretmuanku dengan Senja pada ibu. Rasa gembira campur sedih. Dan ibu pun menceritakan yang sebenarnya..

“nak, ibu akan ceritakan sesuatu padamu”

“cerita? Apa itu?”

“ketika malam itu, kamu yang sedang bermain balap motor dengan kecepatan yang sangat tinggi ada seseorang yang tak sengaja ingin menyebrang. Tetapi kau lebih memilih membantingkan motormu dibanding menabrak orang itu. Dan orang itu dialah Senja. Sebenarnya, kau mengidap penyakit ginjal…”

“apa ginjal?” sergah ku memotong pembicaraan ibu

“mengapa ibu tak menceritakan ini sebelumnya?”

“nak, ibu ga tau harus gimana bilang padamu. Ibu sayang sekali sama kamu. Ibu tak ingin kehilanganmu. Dan ketika kamu sedang tak sadar, Senja datang pada ibu dan bapak untuk meminta maaf dan ia pun sudah tahu tentang penyakitmu. Ia, memutuskan untuk mendonorkan sebagian ginjalnya untuk kamu sebagai tanda permintaan maafnya.”

“Senja mendonorkan ginjalnya untukku?”

“iya nak”

Kini kulihat ibu seperti ingin menangis..

“bu,, aku merasa bersalah sekali pada Senja.”

Aku memeluk ibu erat dan kini ibu benar-benar menangis. Malam itu sungguh terasa sangat sunyi.

***

Keesokan harinya aku segera menemui Senja..

Senja menatap senyum..

“kali ini aku yang akan menemanimu disini. Dan ini sudah takdir Tuhan.”

Aku tahu dulu Senja selalu menemaniku. Dan sekarang takdirku yang menemani dia. Selalu ada senyuman untukku. Aku bahagia melihatnya ceria kembalii walaupun tidak seperti dulu. Hari itu seperti terulang kembali pada awal pertemuan kami.

Ibu dan ayahku juga selalu menjenguk Senja bahkan bergantian denganku untuk menemani. Awalnya aku heran mengapa keluarga Senja tak pernah kunjung datang. Ternyata bukannya dia tidak punya keeluarga tetapi kini hidupnya hanya sebatang kara. Ayahnya yang dulu setia menemaninya telah meninggal sebelum kejadian kecelakaanku. Ibunya, entah pergi kemana semenjak ayahnya sakit-sakitan. Dan ia pun tidak mempunyai sodara. Hanya bibinya yang ada jauh di Lampung sana.

***

Aku tertidur pulas di sofa. Kesiangan. Jam sudah menunjukan pukul 05.00. astagfir aku belum sholat shubuh. Kulihat ibu sepertinya sudah pergi ke musholla. Mengapa ibu tak membangunkan aku? Segera aku ambil air untuk sembahyang. Aku putuskan untuk sholat di kamar saja. Ku lantunkan doa di pagi ini. Aku hanya meminta supaya Senja cepat sembuh dari penyakitnya. Terdengar dari belakang Senja memanggilku yang ternyata mendenngarkan doaku.

“fajar”

“senja, kamu sudah bangun?” tanyaku seraya menghampiri

“fajar, terima kasih banyak ya doanya.. kamu memang lelaki baik yang pernah aku temui setelah ayahku. Aku bersyukur bisa di pertemukan denganmu.”

“iya senja, aku juga senang berada disisimu, dan menemanimu.”

“tapi cepat atau lambat aku akan tiada aku akan tersenyum. Aku hanya bisa berdoa dan berharap agar umurku bertambah sehari, sehari, sehari dan sehari lagi. Karena semua usaha untuk menyembuhkan penyakit ini hanya untuk hidup bersamamu lebih lama lagi. Dan setiap waktu itu begitu berharga meskipun satu detik” Senja tersenyum dan menyentuh bekas operasi ginjalku.

“sssstttt….Senja, kamu telah memberiku sesuatu yang lebih berharga darii semuanya. Ginjal ini, kamu berikan padaku dengan tulus. Dan aku juga memberikan hatiku untukmu. Aku mencintaimu. Aku tak ingin kamu pergi.”

Di fajar ini, aku dan Senja tersenyum menyadari atas karunia Tuhan yang telah diberikan.

[ THE END ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s