Tugas Softskill ke-4

11 ways to help a friend with bipolar disorder

 

No source language Google translate Target language Translation method
1 Don’t give up on them Jangan menyerah pada mereka Jangan menyerah pada mereka Word for word
2 Don’t say calm down or cheer up Jangan bilang tenang atau ceria Jangan berkata tenang atau semangat Word for word
3 Be understanding when they are less of a friend Pahami saat mereka kurang bersahabat Pahami ketika mereka tidak punya banyak teman Word for word
4 Encourage a healthy lifestyle Dorong gaya hidup sehat Dorongan gaya hidup yang sehat Free translation
5 Accept the lows with the high Menerima titik terendah dengan tinggi Menerima rendah dengan tertinggi Free translation

 

 

Source : http://www.psychologytoday.com/blog/where-science-meets-the-steps/201503/11-ways-help-friend-bipolar-disorder

Metode yang dipakai adalah teori Newmark

NAMA KELOMPOK :

  • Agung Cahya Nugraha (10613341)
  • Byas Intan Kusumawati (11613826)
  • Eko Wahid (12613844)
  • Masayu Mughniati (15613332)
  • Oktabella Asyana (16613763)

KELAS : 4SA02

 

Tugas Softskill Tugas Ke-3

Effective Ways To Use Social Media To Promote Your Content
No
Source Language
Google Translate
Target Language
Translation Method
1
Embrace the visual
Merangkul visual
Mencakup yang dapat dilihat
Free translation
2
Customize for the platform
Menyesuaikan untuk platform
Menyesuaikan untuk platform
Word for word
3
Share at the right time
Bagikan pada waktu yang tepat
Bagikan pada waktu yang tepat
Word for word
4
Don’t be afraid to post multiple times
Jangan takut untuk posting beberapa kali
Jangan takut untuk memposting berulang kali
Free translation
5
Share on the right platform
Berbagi pada platform yang tepat
Bagikan di tempat yang tepat
Word for word
6
Experiment with content creator communities
Bereksperimen dengan komunitas pencipta konten
Bereksperimen dengan komunitas pembuat konten
Word for word

Source : http://www.curata.com/blog/11-effective-ways-to-use -social-media-to-promote-your-content/
Metode yang dipakai adalah teori Newmark
NAMA KELOMPOK :
– Agung Cahya Nugraha (10613341)
– Byas Intan Kusumawati (11613826)
– Eko Wahid (12613844)
– Masayu Mughniati (15613332)
– Oktabella Asyana (16613763)
KELAS : 4SA02

Tugas Penerjemahan Berbantuan Komputer (Tugas Softskill ke-2)

6 ways running improves your health

No

Source Language Google Translation Target Language Method 
1 Running makes you happier Menjalankan membuat Anda lebih bahagia Berlari membuat Anda lebih bahagia Word for word Translation
2 Running helps you get fit Berlari membantu Anda menjadi bugar Berlari membantu Anda menjadi sehat Word for word Translation
3 Running strengthens your knees (and your other joints and bones too) Menjalankan memperkuat lutut (dan sendi lainnya, dan tulang juga) Berlari membuat lutut Anda (sendi dan tulang lainnya) menjadi kuat Free Translation
4 Running keep you sharper, even as you age Berjalan membuat anda lebih tajam, bahkan saat usia anda Berlari membuat anda menjadi kuat bahkan saat usia anda tua Free Translation
5 Running can reduce your risk of cancer Menjalankan dapat menurunkan risiko kanker Berlari dapat menurunkan resiko kanker Word for word Translation
6 Running adds years to your life Berjalan menambahkan tahun hidup Anda Berlari dapat memperpanjang usia Anda Free Translation

 

Kelas : 4SA02

Nama Kelompok :

  • Agung Cahya Nugraha (10613341)
  • Byas Intan K (11613826)
  • Eko Wahid (12613844)
  • Masayu Mughniati (15613332)
  • Oktabelia Asyana (16613763)

Source : http://www.Runnersworld.com

Tugas Penerjemahan Berbantuan Komputer (Softskill Tugas Ke-1)

No

Source Language (SL) Google Translate (GL) Target Language (TL) Translation Method (TM)
1 You guys, just start without me Kalian, hanya mulai tanpa aku Kalian duluan saja Literal translation
2 I don’t think I can Saya tidak berpikir saya bisa Kurasa aku tidak bisa Word for word translation
3 Took you long enough Mengambil anda cukup lama Kamu lama juga Literal translation
4 With your chi, I will finally be able to return to the mortal world Dengan chi Anda, saya akhirnya akan dapat kembali ke dunia fana Aku bisa kembali ke dunia nyata Free translation
5 It was never my destiny to stop you Itu tidak pernah takdir saya untuk menghentikan Anda Menghentikanmu bukanlah takdirku Literal translation
6 Dragon you can do it Naga Anda dapat melakukannya Kamu bisa Word for word translation
7 Oh, the spicy noodle soup for Tigress. Did you want extra sauce with that? Oh, pedas mie sup untuk Tigress. Apakah Anda ingin saus tambahan dengan itu? Mi kuah gurih untuk tigress. Kau mau tambahan kuah? Literal translation
8 You guys aren’t doing the dramatic pose, are you? Kalian tidak melakukan pose dramatis, kan? Kalian tidak berpose dramatis, ya? Word for word translation
9 I’ve heard about some masters who could win a fight just by throwing open a door Aku pernah mendengar tentang beberapa master yang bisa memenangkan pertarungan hanya dengan melemparkan membuka pintu Konon pernah ada seorang master menang hanya dengan mendobrak pintu Free translation
10 Hence, the dramatic entrance Oleh karena itu, pintu masuk dramatis Itulah gunanya pembukaan dramatis Word for word translation
11 Whoa, nice dramatic entrance Whoa, baik pintu masuk dramatis Wah, pembukaan dramatis yang bagus Word for word translation
12 – What’s the occasion?

– Today will be my final class

– Dalam rangka apa?

– Hari ini akan menjadi kelas terakhir saya

– Kenapa kau melakukan inni?

– ini hari terakhir aku mengajar

Word for word translation

 

NAMA KELOMPOK :

  • Agung Cahya Nugraha (10613341)
  • Byas Intan Kusumawati (11613826)
  • Eko Wahid (12613844)
  • Masayu Mughniati (15613332)
  • Oktabella Asyana (16613763)

KELAS : 4SA02

Source : Kungfu Panda 3 using Newmark theory

Sepucuk Surat Rindu

Teruntuk Kamu

Yang menjadi objek di semua tulisanku

Hi, how are you? I’m not feeling good actually. No, not because I’m sick. Yah..akhir-akhir ini aku terlalu banyak pikiran sehingga terkadang nafsu makan pun hilang. Bulan ini aku sedang disibukkan dengan teater dan akan menghadapi UAS. Aku ingin mengejar predikat yang bagus, kelak dapat pekerjaan yang sesuai harapan (amiin).

Sometimes, I was thinking about why I always try being to be perfect. Ya aku memang mempunyai suatu mimpi yang ingin ku wujudkan. Masa depanku, salah satunya kamu. Aku mencoba untuk menjadi wanita yang sesungguhnya. Aku belajar sungguh-sungguh meski terkadang merasa jenuh. Aku pun mencoba belajar sesuatu hal yang terkadang bukan bidangku, tapi ku yakin itu akan berguna dalam hidupku. It’s all because of my parents and you. Karena aku selalu ingin terlihat lebih lebih dan lebih dari gadis lain, even though I’m totally not beautiful, I’m not clever at all, I just ordinary girl but I want to be extraordinary person. Can you see my effort? Walaupun hasilnya ga selalu sempurna. Walaupun hasilnya ga selalu berupa predikat dan sertifikat. Tentunya kau pun mempunyai mimpi yang ingin kau realisasikan bukan?

I’m sure that you’re confuse about this letter. Kenapa aku tiba-tiba mengirim email? Apa-apaan email ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang kau ukir di benakmu. Sebenarnya, aku tak tahu apa yang akan kutulis. Aku hanya iseng membuatmu tulisan lewat surat dunia maya ini. Klasik memang. Tapi bukan berarti aku menyukai kisah lamamu. Aku tak mau membahas cerita itu, hanya membuang-buang waktu, membuat hati tersulut api cemburu. Kau tahu? Di Jepang email selalu digunakan untuk berkomunikasi. Terkadang aku ingin memiliki docomo cellphone itu karena keunikannya. Bertukar email, bertukar nomor lewat infrared. Di negara kita, email hanya digunakan sebatas untuk memenuhi kebutuhan kuliah. Benarkan? Shishishi… Di negara ini mana ada muda mudi yang bertukar rasa lewat email? Orang pasti memilih komunikasi lewat SMS. Itu karena simpel untuk digunakan. Tak apa, ya setidaknya sekarang tulisanku tidak hanya tersimpan di draft email lagi.

Ngomong-ngomong soal komunikasi, aku rasa tidak ada masalah. Hanya saja, terkadang kau menghilang dikala kita sedang asyik beradu pesan (SMS/chat). Hey, kau tahu? Itu membuatku frustasi, uh.. Sedetik saja tanpamu aku sudah kelimpungan, bagaimana jika itu…ah tidak, aku tak mau melanjutkannya.

Hei, aku senang sampai detik ini kau masih disisiku. Tetaplah seperti ini ya, sampai mimpi kita terwujud. Mimpi akan takdir dapat menyatukan kita. Ikrar yang akan kau ucapkan di depan orangtua, keluarga dan teman kita. Hm..rasanya aku tak sabar menunggu hari itu. Hari dimana kau akan menjabat tangan dengan ayahku, hari dimana kau akan mendapat tanggung jawab atas diriku. Dan hari dimana kita bersama dibawah rintikan putihnya salju yang diterangi lentera Tokyo ditemani dengan ramen panas. Ah..aku terlalu terburu-buru hehe..

Kau tahu? Aku rindu. Hanya itu yang terucap dari bibirku saat ini. Cinta itu tak memandang jarak, sekalipun rindunya akan menyeruak. Cinta juga tak mengenal waktu, asal saling setia menunggu. Distance between two hearts isn’t an obstacle, right? Aku mencintaimu dengan segala kerumitanmu. Dengan jarak yang membentang berpuluh-puluh kilometer, di ruang berbeda dengan setiap dentingan waktu. Seperti biasa, aku masih berkutat dengan rindu ini yang menjadi candu. Terkadang, aku benci mengapa waktu bergulir tanpa mengurangi rinduku padamu. Tapi selama ada angin, rinduku akan sampai padamu, kan? Kamu yang menjadi tujuanku. Hingga akhirnya jarak bukan lagi sekat diantara kita. Aku jadi teringat lagu Peterpan..

Bila rindu ini

Masih milikmu

Kuhadirkan sebuah

Tanya untukmu

Harus berapa lama

Aku menunggumu

Aku menunggumu….

Haha..semoga kita dapat bertemu dengan cepat dalam waktu yang dekat ya.

Sudah dulu ya, aku mau manggung teater. Doakan aku, wish me luck!

Jaga dirimu, matamu, dan hatimu (untukku) baik-baik ya^o^)/

Yang total dalam mencintaimu

Aku xD

Aishiteru

Tegur aku..

Ketika salahku

Menyelimuti tingkahmu.

 

Jamah aku..

Ketika kebodohanku

Menggores perasaanmu

 

Bangunkan aku..

Saat lelapku

Meninggalkan keimananku

 

Disini ku coba untuk bertahan

Disini hatiku hanya mampu

Untuk mengatakan :

“CINTA RUBAH  AKU !!”

Karena kekuatanmu

Mampu merubahku

Karena keindahanmu

Mampu berikan kasih sayang

Karena kelembutanmu

Mampu merubah ketamakanku

Senja Untuk Sang Fajar

Kita tak pernah tahu apa yang bisa mengubah hidup kita dalam hitungan detik, dengan siapa kita akan ditakdirkan bertemu dan siapa saja yang akan hilang dalam hidup kita. Satu hal yang pasti adalah bahwa hidup tak pernah pasti.

Seperti biasa, malam itu aku mengendarai motor dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di belakangnya terdapat Aldo yang juga tak ingin kalah. Ia memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang mungkin akan menyusulku. Balap motor adalah salah satu kegemaranku. Aku sangat menyukai dengan hobi yang menantang itu.

Dengan kilat sekitar lima menitan Aldo tertinggal jauh di belakangku. Akan tetapi aku berpikir pasti Aldo akan menyusul dan menyalipku kembali. Dengan optimis dan tekad yang tak mau kalah aku menambah kecepatan. Aku sudah hafal akan jalanan. Tak ada yang tak bersahabat denganku. Aspal licin pun aku sebrangi bagai hembusan angin malam. Sombongku dalam hati. Akan tetapi sayang sekali, ketika aku membelokkan motor setelah tikungan tajam itu, bayangan seseorang membuat diriku harus membanting motor. Aku pun terpelanting jauh dari jalan, entah kemana.

Keesokan harinya aku telah terkujur di Rumah Sakit dengan kepala yang dibaluti kassa. Tak hanya kepala saja yang terluka, hampir sebagian tubuhku luka parah. Sedikit demi sedikit aku membuka mata. Gelap. Aku menggerakan tangan tetapi terasa kaku untuk di gerakan. Begitu terasa nyeri.Terlihat seorang wanita berkerudung merah yang sedang tertidur di sampingku yang setia menemaniku. Ingin aku bertanya apa yang telah terjadi padaku.

“nak, kau sudah siuman? Sebentar ya, ibu panggilkan dokter”

Aku hanya mengangguk lemas. Ibu segera pergi keluar. Aku memutar balik otak mengingat apa yang telah terjadi tadi malam. Aku hanya ingat sedikit akan balap motor itu. Selebihnya aku tidak tahu. Otakku terasa berdenyut, entah mungkin ada yang terputus atau terganggu.

Dokter masuk tanpa mengetuk pintu diiringi ibu dari belakang dan langsung memeriksa keadaan kondisiku. Ku lihat Ibu dari tadi mengepal tangan mungkin ia berharap dan berdoa agar tidak terjadi sesuatu padaku.

Terlihat bapak yang baru pulang dari kerja sengaja menyusul ke Rumah Sakit untuk menemani aku dan ibu.

“bu, pa, bisa ikut saya sebentar ke ruangan saya?” pinta dokter

Tanpa menjawab ibu dan bapak mengangguk mengikuti perintah dokter. Dengan wajah cemas ibu tersenyum padaku memberi tanda isyarat bahwa tidak akan terjadi apapun padaku. Ah apa yang ingin dokter katakan pada mereka? Mungkinkah itu mengenai penyakitku? Mengapa dokter tak katakan saja langsung padaku? Selama hatiku bertanya, mataku terus memandangi televisi yang daritadi menanyangkan acara MotoGP. Pada urutan pertama ada Casey Stoner disusul dengan Jorge Lorenzo dan Marco Simoncelli. Ketiga pemain MotoGP itu merupakan idolaku. Kecepatan dalam balapan itu, sungguh menggugah hati. Tikungan tajam terlihat begitu indah ketika mereka berbelok. Aku tak sadarkan diri kalau aku sedang sakit. Seketika seorang pembalap terpelanting. Tak disangka dia adalah Simoncelli. Aku setengah kaget ketika melihat berita bahwa idolaku itu sudah tewas.

Kreek…suara pintu terbuka. Perlahan ia mengintip dan tersenyum padaku. Terlihat seorang gadis dengan baju selutut dan rambut terurai panjang segi, dengan poni kedepan. Aku tak mengenalinya. Sepertinya ia masih SMA. Ia masuk hanya tersenyum dan kembali keluar. Mengapa dia begitu aneh sekali? Ah sudah lah mungkin hanya orang iseng. Tetapi terdengar dari luar kamar, gadis itu sedang bercakap-cakap dengan ibu. Aku tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan karena hanya terdengar samar-samar.

Ibu dan ayah masuk ke dalam kamar dengan wajah yang berusaha tenang. Di belakangnya gadis itu mengikuti. Ingin aku bertanya pada orangtuaku mengenai penyakit yang di deritaku. Ibu menghela nafas, dan ia menjelaskan tentang kecelakaan yang menimpaku. Aku harus bersabar akan pemulihan ini. Menurut dokter, kemungkinan besar kakiku tak bisa sembuh. Aku terdiam. Ibu menitikan air mata. Bapak mencoba menenangkan ibu. Gadis itu juga menatapku datar. Ini tak mungkin, ingin rasanya aku memaki dokter yang seenaknya bicara. Tapi inilah akibat dari ulahku.

Sudah beberapa hari ini gadis itu selalu menemaniku dan aku mulai terbiasa dengannya. Namanya Senja. Ia selalu membuatku nyaman di dekatnya. Ia menemaniku ngobrol dan bercerita. Sore ini aku ditemani Senja jalan-jalan sekitar taman Rumah sakit. Tetapi aku masih heran mengapa ia begitu setia menemaniku, menjenguku dan baik kepada orangtuaku.

Dua minggu kemudian aku sudah di perbolehkan pulang meskipun masih memakai kursi roda. Itu tak masalah bagiku selama masih ada Senja di belakangku yang selalu menemani. Ku sadari hanya ibu, bapak dan Senja lah yang selalu ada di sisiku. Tak satu pun teman-temanku menjenguku. Bahkan Linda kekasihku, tak kunjung menampakan diri di hadapanku. Aku benar-benar merasa kehilangan. Tak ada yang tulus untuk di jadikan sebagai sahabat. Senja bilang mereka menjenguk ketika aku tidur. Namun aku tahu, Senja hanya lah menghiburku.

***

Sudah dua hari ini Senja tidak muncul. Biasanya ia menjenguku ke rumah. Apa dia sudah bosan? Mengapa setiap orang yang dekat denganku pergi begitu saja?

Aku ingin menangis tetapi tak bisa, bukan karena air mataku yang telah habis tapi karena aku ingin terlihat tegar dan sabar sebagai seorang jantan. Rasanya aku ingin melempar tongkat yang menopang kakiku, tetapi…

Wajahku sumringah ketika Senja berdiri tidak jauh di depanku , aku tersenyum senang. Aku urungkan niat marah yang menguasaiku. Senja menghampiriku. Dan aku langsung memeluknya erat.

“jangan tinggalkan aku, jangan kau pergi seperti yang lainnya. Aku mohon.”

“aku tidak pernah meninggalkanmu. Bukankah aku selalu menemanimu? Hm..mungkin kamu lah yang akan menyuruhku menghilang dari kehidupanmu.”

Aku mengkerutkan keningku heran.

“apa yang kau maksud? Aku sama sekali tak mengerti”

“kau tahu? Aku lah orang yang menyebabkanmu kecelakaan waktu itu. Aku yang telah membuatmu cacat seperti ini. Dan sekarang apa kamu masih ingin aku ada disini?”

Aku kaget tak percaya. Emosi yang kuurungkan tadi kembali menggencarku.

“apa? Jadi selama ini kau menemaniku dengan alasan kasihan?”

“awalnya aku memang merasa bersalah padamu tetapi mungkin Tuhan menakdirkanku untuk menemanimu”

“apa maksudmu? Setelah kau membuatku cacat seperti ini, kemudian kau ingin mengatakan bahwa kau mencintaiku?”

Senja hanya terdiam menyesal.

“apa ibu dan ayahku tahu tentang ini?”

“ya, aku sudah ceritakan pada mereka. Mereka telah memaafkanku. Tetapi aku masih merasa berdosa padamu. Jika kau memang benar-benar marah padaku, marah lah, aku akan terima”

“sudah lah pergi saja kau! Aku tidak ingin melihatmu lagi disini. Aku tidak butuh belas kasihanmu.”

Senja mengerti akan keadaanku. Ia segera pergi dengan mulut membisu. Aku tak peduli. Aku segera masuk rumah menghindari darinya. Kini dia bukan orang yang suka menemaniku lagi, ia hanya seorang yang telah menghancurkan hidupku dan harapan-harapanku.

***

Sore ini, aku pergi jalan-jalan sendiri ke Taman. Seperti biasa melihat sunset yang begitu indah. Memandang langit kuning keemasan. Imajinasiku mulai berjalan. Tapi sore kali ini langit begitu sendu, dan mungkin akan turun hujan.

“kau suka senja juga kah?” tiba-tiba seorang gadis duduk di sampingku. Senja, kembali lagi menemaniku.

“kalau iya berarti kita sama. Aku juga suka senja apalagi dibarengi hujan”

Aku hanya terdiam. Kini hanya rasa kesalku yang ada padanya.

“aku tak suka senja dan hujan! Hanya membawa kegelapan saja” jawabku singkat

“kau tau? aku suka langit dalam bentuk apapun, entah itu langit biru di siang hari atau pun langit gelap di malam hari bahkan langit mendung ketika hujan pun aku suka. Aku suka senja di sore hari ataupun fajar di pagi hari”

Senja menoleh padaku. Aku hanya memasang wajah sinis.

“aku tahu kau begitu membenciku. Tapi aku yakin kamu mempunyai hati yang luas seperti langit di sana. Jika di hatimu itu tak pernah ada maaf bagiku, maka aku pun tak akan memaksa untuk ada. Apalagi mengaharapkan cinta yang indah seperti senja. Aku hanya lah orang yang telah membuatmu celaka dan aku ibarat rasa sakit yang ada padamu.”

Aku masih diam, tak bicara sedikit pun.Senja memegang tanganku dan aku tak menghindar kali ini.

“jika suatu saat ketika aku menghilang, aku yakin ketika itu ada sesuatu yang aku temukan dalam hidup ini”

Senja tersenyum dan seraya pergi meninggalkanku sendiri dengan senja yang mulai hitam akan malam disertai gerimis.

Semenjak itu Senja tak pernah nampak lagi. Ia menghilang. Ibu dan bapak pun mengerti akan persoalan ini. Mereka memaklumi mengapa Senja tak pernah kunjung ke rumah.

***

Setahun sudah, Senja benar-benar tak kembali. Aku mencoba mencari untuk mengetahui keadaannya. Aku sudah memaafkannya dan Senja harus tahu. Aku pun sekarang sudah berjalan normal tanpa harus berjalan dengan tongkat. Chek up selalu aku laksanakan dengan rutin hingga kondisiku membaik dan kemungkinan besar aku akan pulih kembali.

Pagi ini aku harus chek up. Alangkah kagetnya ketika aku melihat sesosok gadis yang berjalan memakai kursi roda. Aku mencoba mendekat padanya.

“Senja…” panggilku lirih

Senja menoleh tersenyum padaku. Tak disangka aku masih bisa bertemu Senja, Tuhan.

“Fajar!” panggilnya tak percaya

“kenapa kamu di rumah sakit? Kamu sakit apa?”

“um..aku sakit ginjal” jawabnya berusaha tersenyum

Terlihat Senja begitu kurus dan mukanya pucat. Gadis ceria ini mengidap penyakit yang begitu keras? Tak percaya. Hatiku terenyuh ketika ia masih berusaha untuk tersenyum.

Senja tak bisa berlama mengobrol denganku. Perawat mengajaknya masuk.

Setelah dari rumah sakit, aku kemudian pulang dan malamnya aku menceritakan peretmuanku dengan Senja pada ibu. Rasa gembira campur sedih. Dan ibu pun menceritakan yang sebenarnya..

“nak, ibu akan ceritakan sesuatu padamu”

“cerita? Apa itu?”

“ketika malam itu, kamu yang sedang bermain balap motor dengan kecepatan yang sangat tinggi ada seseorang yang tak sengaja ingin menyebrang. Tetapi kau lebih memilih membantingkan motormu dibanding menabrak orang itu. Dan orang itu dialah Senja. Sebenarnya, kau mengidap penyakit ginjal…”

“apa ginjal?” sergah ku memotong pembicaraan ibu

“mengapa ibu tak menceritakan ini sebelumnya?”

“nak, ibu ga tau harus gimana bilang padamu. Ibu sayang sekali sama kamu. Ibu tak ingin kehilanganmu. Dan ketika kamu sedang tak sadar, Senja datang pada ibu dan bapak untuk meminta maaf dan ia pun sudah tahu tentang penyakitmu. Ia, memutuskan untuk mendonorkan sebagian ginjalnya untuk kamu sebagai tanda permintaan maafnya.”

“Senja mendonorkan ginjalnya untukku?”

“iya nak”

Kini kulihat ibu seperti ingin menangis..

“bu,, aku merasa bersalah sekali pada Senja.”

Aku memeluk ibu erat dan kini ibu benar-benar menangis. Malam itu sungguh terasa sangat sunyi.

***

Keesokan harinya aku segera menemui Senja..

Senja menatap senyum..

“kali ini aku yang akan menemanimu disini. Dan ini sudah takdir Tuhan.”

Aku tahu dulu Senja selalu menemaniku. Dan sekarang takdirku yang menemani dia. Selalu ada senyuman untukku. Aku bahagia melihatnya ceria kembalii walaupun tidak seperti dulu. Hari itu seperti terulang kembali pada awal pertemuan kami.

Ibu dan ayahku juga selalu menjenguk Senja bahkan bergantian denganku untuk menemani. Awalnya aku heran mengapa keluarga Senja tak pernah kunjung datang. Ternyata bukannya dia tidak punya keeluarga tetapi kini hidupnya hanya sebatang kara. Ayahnya yang dulu setia menemaninya telah meninggal sebelum kejadian kecelakaanku. Ibunya, entah pergi kemana semenjak ayahnya sakit-sakitan. Dan ia pun tidak mempunyai sodara. Hanya bibinya yang ada jauh di Lampung sana.

***

Aku tertidur pulas di sofa. Kesiangan. Jam sudah menunjukan pukul 05.00. astagfir aku belum sholat shubuh. Kulihat ibu sepertinya sudah pergi ke musholla. Mengapa ibu tak membangunkan aku? Segera aku ambil air untuk sembahyang. Aku putuskan untuk sholat di kamar saja. Ku lantunkan doa di pagi ini. Aku hanya meminta supaya Senja cepat sembuh dari penyakitnya. Terdengar dari belakang Senja memanggilku yang ternyata mendenngarkan doaku.

“fajar”

“senja, kamu sudah bangun?” tanyaku seraya menghampiri

“fajar, terima kasih banyak ya doanya.. kamu memang lelaki baik yang pernah aku temui setelah ayahku. Aku bersyukur bisa di pertemukan denganmu.”

“iya senja, aku juga senang berada disisimu, dan menemanimu.”

“tapi cepat atau lambat aku akan tiada aku akan tersenyum. Aku hanya bisa berdoa dan berharap agar umurku bertambah sehari, sehari, sehari dan sehari lagi. Karena semua usaha untuk menyembuhkan penyakit ini hanya untuk hidup bersamamu lebih lama lagi. Dan setiap waktu itu begitu berharga meskipun satu detik” Senja tersenyum dan menyentuh bekas operasi ginjalku.

“sssstttt….Senja, kamu telah memberiku sesuatu yang lebih berharga darii semuanya. Ginjal ini, kamu berikan padaku dengan tulus. Dan aku juga memberikan hatiku untukmu. Aku mencintaimu. Aku tak ingin kamu pergi.”

Di fajar ini, aku dan Senja tersenyum menyadari atas karunia Tuhan yang telah diberikan.

[ THE END ]

 

Cinta Sesaat

“Aaaaaaarrrggghh…..saya benar-benar sedih… Entah kenapa pacar saya mutusin saya begitu saja, padahal saya masih sayang padanya. Saya ingin sekali berteriak.”

Curahan seorang wanita yang sedang patah hati karena di putusin pacarnya itu menangis tersedu-sedu.

“Cinta itu bagaikan pedang bermata dua. Jika kita tidak hati-hati dalam pemakaiannya maka ia akan melukai diri kita sendiri, atau pun orang lain yang kita sayangi. Sekarang, silahkan anda keluarkan semua teriakan hati anda, nangis sekencang-kencangnya agar anda lega.” Ujar psikiater cinta

 

Suasana di ruangan psikiater cinta itu bener-bener ramai akan pasien yang patah hati atas penyesalan cinta yang salah. Psikiater itu menasehati, dan memberikan solusi. Memang cinta itu menyakitkan akan tetapi disisi lain cinta itu begitu indah. –Mungkin-. Karena yang aku rasakan kini tidak seperti wanita malang itu dan semoga saja aku tidak mengalami hal seperti itu.

***

“Aduuuh lebay, ga  banget deh” komenku sinis

“Apa sih Ra? Biasa aja kale”

“Sera, yang harusnya biasa tuh mereka. Gitu aja ko ampe histeris”

“Ya wajar lah Ra, mereka kan hanya mengeluarkan unek-unek”

‘Huh..ribet amat deh”

‘Lu juga bisa ke psikiater itu kalau ntar lu lagi patah hati”

“Hah ? O to the G to the A to the H.” Cibirku pada Sera

“Yeeey..udah ah buruan gua laper nih..”

“Iya gue juga, mau makan apa kita ?”

“Nasi goreng !” kata Sera

“Gue pengen pizza !” kataku beda pendapat

“Nasi goreng !” Sera tetap ngotot

“Pizza !” aku pun tak mau kalah

Bruk !!!!

Tanpa sengaja mobil bermerek BMW menyerempet Rara sehingga Rara jatuh. Lalu seorang pria dewasa yang tampan keluar dari mobil itu. Dia begitu keren, memakai kaca mata hitam, memakai jas,  berwibawa dan baik hati.

“Ra, lu ga apa-apa kan?”

“Aduuh saya minta maaf ya tadi saya ga sengaja. Kamu ga apa-apa kan?”

Rara yang tadinya kesel berniat ingin memaki-maki tapi ketika melihat wajah tampan lelaki itu ia hanya diam dan memandanginya tanpa disadari lukanya.

“Hey ko ngelamun? Oh ya saya ambilkan dulu plester ya”

Lelaki itu masuk ke dalam mobil mengambil plester dan obat betadine. Setelah selesei mengobati, lelaki itu kembali meminta maaf dan pamit untuk pergi. Dan begitu pun dengan Rara, ia meminta maaf karena telah salah bercanda di jalanan.

“Ya ampuun ganteng banget cowok itu” pujiku

“Siapa?”

“Ya cowok itu lah Ser”

“Haaah??”

“aduuh lupa nanyain namanya”

“Hello..Alex mau di kemanain ?”

“Oh iya ya…hehe”

“Huh dasar..”

 

***

 

“Eh Ra, ngomong-ngomong lu yakin sama omongannya si Alex?”

“Maksud lo?” tanyaku heran

“Ya dia kan ga bisa nemenin lu jalan”

“ooh…iya lah, gue percaya ko kalau dia tuh lagi sakit”

“Ko lu percaya aja sih?”

“Lah emangnya kenapa sih?”

“Terus kalau Alex cowok lu itu lagi sakit, itu siapa dong?”

“Apaan sih Ser?”

“Itu liat Ra !”

“Hah? Itu kan Alex Ser”

“sabar Ra, jangan langsung nyarbot ntar tambah berabe”

“Bodo! Siapa lagi tuh cewek, kurang asem!”

“Ra..”

Aku ga bisa nahan emosi. Cewek mana coba yang pengen di dua tiga in. Tanpa mempedulikan sekitar aku menemui Alex dan cewek genit itu yang sedang melihat-lihat acsessoris. Plak !. Tamparan yang cukup keras dari tangan kananku membuat Alex kaget dan kesakitan.

“Loh Rara, ko kamu ada di sini?”

“Harusnya aku yang nanya, katanya kamu sakit tapi kenapa malah jalan sama orang lain. Siapa cewek ini?”

“hey..gue Nisa, pacarnya Alex. Lo mantannya Alex kan?”

“Apa mantan? Gue Rara, masih pacarnya dia”

“hah? Tapi dia bilang….”

“Dasar playboy! Kita putus !”

“Tapi Ra..”

“Kita juga putus!”

“eh…tunggu penjelasan aku dulu!”

“Emang enak! Playboy sih lu” ejek Sera

“Ser, tunggu Ser”

“Wleee….” cibir Sera

“Aaah sial !”

 

***

 

Sore ini aku habiskain waktuku di taman rumah sambil memberi makan. Lebih asyik kan di banding jalan dengan pacar? Biasanya jam segini Alex selalu mengajakku untuk jogging. Lalu kita makan di resto bunaya sambil bercanda dan tertawa. Hm…lupakan! Tak penting bagiku untuk di kenang..

Mobil BMW berwarna merah parkir di depan rumahku. Ketika keluar dari mobil tampak seorang pemuda yang sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Ya, aku pernah bertemu dengannya di Mall. Dia kan orang yang menabrakku tadi siang. Hm..ada apa ya dia ke rumahku? Aku semakin bingung ketika kakak ku, kak Mesya segera menghampiri pemuda itu.

“Hey sayang, sudah pulang?”

“Iya, setelah pekerjaanku selesai aku cepat-cepat pergi ke sini. Aku kangen sekali sama kamu”

“Aku juga kangen. Kamu libur berapa minggu?”

“Aku hanya libur satu minggu setelah itu mungkin aku balik lagi ke Jakarta”

“Hm..”

“Jangan sedih dong sayang, sekarang lebih baik kita senang-senang aja dulu mumpung aku lagi disini”

Oh ternyata pacarnya kak Mesya. Hm…padahal kan aku naksir dia. Huh sebel ! gumamku..

“Eh kamu?” sapa Mas Yoga menyapaku heran

“Loh kalian sudah saling kenal?” heran kak Mesya

“em..iya kak, tadi siang aku…(sambil menunjukan luka yg kena tabrak)”

“Oh jadi kamu yang nabrak ade aku”

“hm..iya sayang tapi aku bener-bener ga sengaja”

“woooo…”

“Loh ada Yoga. Kapan dateng nak? Mesya, ko ga di ajak masuk? Ngobrolnya di dalam saja” ajak mamah

“eh Mamah, iya Mah..”

 

***

 

“Ra…Rara…”

Siapa sih yang manggil-manggil, ga sopan banget keras-keras. Tapi ko suaranya kaya ga asing. Aku bergegas menghampiri suara tersebut. Benar dugaankku ternyata Alex yang datang. Aku mencoba menghindarinya dan menutup kembali pintu rumah tetapi dorongan Alex lebih kuat.

“Ada apa kamu kesini?”

“Ra, plis dengerin aku dulu”

“udah lah, kita udah putus. Jangan ganggu aku lagi”

“aku udah mutusin Nisa, aku Cuma pengen sama kamu. Plis Ra…”

“Maaf,, aku lagi ga mau pacaran”

“Ra..”

Alex mencoba meraih tanganku dan menggenggamnya, tapi aku berusaha keras untuk menghindarinya. Aku di tarik dengan cara kasar hingga tanganku kesakitan dan aku pun menjerit. Untungnya ada Mas Yoga yang menghentikan.

“hey kamu lepaskan dia! Kalau sudah putus ya sudah jangan ganggu dia lagi. Pergi kamu!”

“cepat pergi, atau mau saya hajar”

Dan Alex pun pergi dengan rasa kesal dan menyesal. Siapa yang ga takut dengan kewibawaannya Mas Yoga? Ia begitu berkharisma dan bijaksana. Pantas saja kak Mesya begitu mencintainya. Mungkinkah aku bisa memiliki mas Yoga?

“kamu tidak apa-apa Ra?”

“eh? Oh iya baik-baik aja ko Mas”

“lain kali cari pacar yang baik, tidak seperti mantan kamu itu yang kasar.”

“eh ko tau itu mantan aku mas?”

“iya tadi sedikit mendengar pembicaraan kalian. Masuk yuk”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

 

***

 

“tau ga sih Ser? Cowok yang nabrak gue kemaren siang itu ternyata pacarnya kak Mesya.”

“hah serius lo?”

“iyaa..sebel banget gue..”

“loh sebel kenapa? Ya bagus dong..”

“gue kan naksir dia Ser”

“apa ? rara…!”

“kenapa?”

“lo ga bercanda kan?”

“ngga, apa salah kalau gue naksir sama pacar kakak gue sendiri?”

“iya salah lah Ra..Dia kan pacar kakak lo”

“bodo amat yang penting gue bisa dapetin Mas Yoga”

“Ra, lu sadar ga sih kalau lu kaya gitu lo sama aja kaya tante gue yang dulu kegenitan sama bokap gue. Murahan tau ! ”

“Sera, jaga mulut lo. Enak aja..Gue cuma pengen Mas Yoga jadi pacar gue aja”

“terserah deh Ra, yang pasti gue benci banget sama sifat lo yang kaya tante gue itu yang udah ngerusak hubungan bokap sama nyokap gue” kesal Sera seraya pergi.

“Eh lo mau kemana?”

Tanpa menjawab Sera langsung saja pergi meninggalkan Rara yang duduk terpaku di bangku taman itu. Ia begitu kesal dengan sikap wanita yang suka merebut dan merusak hubungan seseorang. Ya termasuk tantenya itu. Tante dari mamahnya itu mencintai papahnya Sera sehingga terjadi perselingkuhan dan akhirnya hubungan kedua orang tua Sera di akhiri dengan perceraian.

Aku mendesah kesal. Ku lemparkan batu ke dalam kolam. Percuma curhat sama sahabat sendiri pun ga mendukung. Aku pun pulang dengan hati yang gelisah.

 

***

 

Kring…suara handphone ka Mesya bunyi. Mungkin dari Mas Yoga. Tuh kan benar saja apa yang ku kira..Sepertinya nanti malam Mas Yoga akan menjemput kak Mesya untuk pergi untuk nonton. Hm..

“em..telepon dari Mas Yoga ya kak?”

“eh iya Ra…nanti malem Yoga jemput kakak buat nonton”

“ooohh” senyumku ketus

“kamu kenapa Ra? Ko mukamu seperti sedih gitu?”

“kakak, nanti mau nikah dengan mas Yoga?”

“hehe..iya pasti kakak mau lah. Kamu kenapa nanya begitu?”

“aku takut nanti kakak lupa sama aku”“hm…adikku sayang, kakak ga mungkin lupa sama kamu. Kakak janji akan selalu inget kamu, selalu sayang kamu”

“iya kak, aku tau”

“jangan sedih lagi dong” hibur kak Mesya

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab.

 

***

 

Prang…!!!

Terdengar dari dapur suara gelas pecah. Kak Mesya tidak sengaja memecahkan gelas yang berisi minuman untuk Mas Yoga. Mama, aku, dan Mas Yoga bergegas pergi ke dapur. Kami kaget, terlebih lagi Mas Yoga, karena kaki dan tangan Kak Mesya terkena luka serpihan gelas pecah sehingga kakinya berdarah dan lumayan cukup parah. Aku dan Mas Yoga cepat-cepat membawa Kak Mesya ke Rumah Sakit. Aku iri sekali dengan perhatian Mas Yoga terhadap Kak Mesya. Ia begitu khawatir dan cemas. Sepertinya ia tak ingin kehilangan Kak Mesya. Ah ada apa denganku? Dalam masalah genting gini aku masih saja sempat memikirkan Mas Yoga.

Setelah dari Rumah sakit Kak Mesya dan Mas Yoga memutuskan membatalkan kepergiannya. Ups..tapi tidak! Mas Yoga tetap pergi, tapi….

“sayang, sepertinya kita ga jadi nonton”

“um..iya sayang ga apa-apa, aku ngerti ko. Kamu kan lagi sakit”

“tapi selama kamu pulang kan aku belum nemenin kamu jalan”

“ga apa-apa sayang. Yang paling penting bagiku yaitu kesmbuhan kamu. Masalah jalan lain waktu juga bisa”

“hm…gimana kalau jalannnya digantiin sama Rara. Biar dia nemenin kamu malam ini. Ga apa-apa kan Ra?”

Sontak, aku kaget mendengar ucapannya Kak Mesya. Aku ga tau harus jawab apa. Bagaimana bisa aku mendapatkan kesempatan untuk jalan bareng Mas Yoga. Hello Ra, lo ga mimpi kan.. tanyaku dalam hati sambil mencubit tanganku. Aw… sakit.

“apa? Aku?” tanyaku kaget

“iyaa.. kenapa? Kamu kan calon ade iparnya Yoga. Jadi biar akrab gitu”

“hm..ooh ga apa-apa, bo..boleh aja Ka”

“tuh kan”

“ya udah Ra, kita anter Mesya pulang dulu setelah itu kita jalan”

“oh iya Mas” anggukku

Sesampainya di rumah Mas Yoga memonggok Kak Mesya, dibantu dengan papah. Aku menunggu di dalam mobil. Tak lama, mas Yoga keluar dan masuk mobil. Ia mulai menstarter mobilnya. Aku mulai merasa deg-deg an. Kami mulai jalan, entah mau dibawa kemana aku pergi. Tak sepatah kata pun mas Yoga bicara padaku. Aku bingung bercampur senang. Tuhan tolong aku. Aku tak tau harus bagaimana. Apakah aku yang harus memulai bicara terlebih dahulu? Apa aku meminta Mas Yoga untuk memutarkan lagu klasik dalam mobil agar terlihat lebih asyik? Atau..

“ra, kamu maunya kita kemana nih?”

Ah..! akhirnya ia bicara juga. Dari tadi kek biar ga bingung. Fiuuh… :$:3:#

“eh? Hm..gimana mas Yoga aja deh”

“loh ko terserah Mas sih? Ya udah kita mampir di nasi goreng aja ya”

“dimana tuh Mas?”

“di deket Carrefour. Nasi gorengnya enak loh. Banyak anak muda yang sering mampir disana.”

“boleh mas boleh”

Segera kami cuus kesana…

 

Nasi goreng dua telah terhidang di meja. Segera aku makan. Mungkin karena aku belum makan dari siang jadi aku merasa kelaparan. Ternyata nasi goreng yang dikatakan Mas Yoga itu beneran enak.

Uhuk..aku tersedak.

“ya ampun pelan-pelan dong Ra.” Mas Yoga memberikan minum.

“iya Mas. Enak banget sih nasi gorengnya”

“ya emang. Mas kan ga pernah bohong.”

Setelah selesei makan kami langsung pulang ke rumah karena sudah malam. Sebenarnya aku masih ingin lama berdua begini dengan Mas Yoga. Tuhan, semoga aku bisa seperti ini lagi. Gumamku.

 

***

 

“Mah, undangan ini sepertinya kurang menarik”

“Ya sudah nanti kamu bicarakan lagi dengan Yoga.”

Terdengar obrolan Kak Mesya dengan Mamah di luar. Aku segera nyelonong berangkat sekolah. Aku tak ingin berbicara sepatah kata pun pada Kak Mesya. Mungkin ada rasa kecewa dengan hubungan Kak Mesya dan Mas Yoga yang 1 bulan lagi akan resmi menikah.

“Ra, ko ga pamitan sama mamah?”

Aku memutar balik badan dan menghampiri mamah dan Kak Mesya.

“kamu kenapa kok tampaknya cemberut?” tanya mamah

“hm..liat deh Ra, undangan pernikahan kakak menurutmu bagaimana?” tanya Kak Mesya

Aku langsung pergi tanpa menjawab. Aku tidak suka jika Kak Mesya jadi menikah dengan Mas Yoga. Aku ingin semua rencananya batal.

“Rara..” panggil mamah

“Sudah lah mah”

“kenapa dia aneh sekali ya?” tanya mamah heran

“ya mungkin dia belum siap jika aku menikah dengan Yoga. Dia pernah bilang kalau aku takut melupakannya. Suatu saat juga dia pasti menerima ko mah”

“aneh-aneh saja anak itu”

 

***

 

Malam ini diadakan acara makan malam bersama keluargaku dan keluarga Mas Yoga. Kak Mesya dan Mas Yoga ingin mengutarakan pernikahannya kepada dua belah pihak dan meminta persetujuan dan doa dari orangtua masing-masing. Tepat pukul 8 semua sudah berkumpul dan rapi terkecuali aku. Aku masih mendekam di dalam kamar. Aku tidak siap untuk keluar.

“Ra..Raraa” panggil mamah di balik pintu

Aku tak menjawab. Karena memang aku tak ingin keluar.

“Ra, kamu lagi ngapain sih? Kamu udah selesei belum? Semuanya sudah rapih di bawah, tinggal menunggu kamu saja”

Ah mungkin aku utarakan saja perasaanku saat ini. Aku tak peduli apa yang akan terjadi. Aku ingin Mas Yoga menjadi milikku. Aku segera keluar membukakan pintu.

“kamu ini lama sekali. Ayo sudah ditunggu”

“iya mah”

 

“Nah, sekarang kita sudah kumpul semua”

“baiklah, sebelum makan malam dimulai, aku ingin mengutarakan maksud baikku ini.”

Semua orang tersenyum, tidak sabar apa yang akan dibicarakan Mas Yoga. Terutama Kak Mesya.

“begini om, saya bermaksud ingin mempersunting Mesya sebagai istriku”

“Saya, sebagai papahnya Mesya sudah merestui hubungan kalian.”

“tunggu pah, aku ingin bicara sesuatu.”

Bagaimana aku harus memulai? Apa kuurungkan saja?

“aku tidak setuju jika Kak Mesya dan Mas Yoga menikah”

Semua orang yang ada di ruang makan itu kaget tidak percaya. Mengapa aku sebagai adiknya Mesya tidak merestui?

“aku…aku mencintai Mas Yoga !” lanjutku

“Rara !” bentak mamah

“apa maksudmu?” tanya papah

Kak Mesya tampak begitu kaget. Ia shock dan asmanya kambuh ketika mendengar pembicaraanku tadi. Papah segera membawa Kak Mesya ke rumah sakit. Aku segera pergi ke belakang menuju taman. Ku tingal kan mereka yang belum memulai acara makan malam. Mungkin acara ini berantakan karena ucapanku tadi. Ya setidaknya aku ingin Mas Yoga tahu apa yang selama ini aku pendam. Aku menangis dibawah langitnya malam.

“Rara”

Kulihat Mas Yoga menghampiriku. Aku kembali membuang muka.

“Rara..Mas tau perasaanmu. Tapi kebaikan Mas selama ini sama kamu itu hanyalah sebatas adek”

“Mas, aku mencintai Mas Yoga. Aku sayang sama Mas”

“Mas tau Ra. Mas juga sayang sama kamu. Tapi sayang Mas itu hanya sebagai ade. Kamu kan adiknya Mesya, jadi Mas juga harus sayang sama kamu” jelas Mas Yoga

“Mas Yoga itu ga pernah ngerti ya perasaan aku” aku pergi ke kamar meninggalkan Mas Yoga.

 

***

 

“Ser, lo masih marah sama gue?” aku coba deketin Sera

“Gue tau gue salah, Ser. Gue minta maaf. Tapi gue bener-bener butuh lo. Gue butuh sahabat yang bisa nasehatin gue” kali ini aku nangis.

“Ra, gue juga minta maaf ya. Gue pasti bantu lo ko.” Kali ini Sera tak menghindar dariku.

Setelah itu, aku menceritakan semua permasalahanku pada Sera. Sera pun kaget tak percaya ternyata aku sudah sejauh itu membuat masalah. Tapi aku bersyukur, Sera tidak membenciku kali ini. Ia bahkan ingin membantuku menyelesaikan masalahku ini.

“parah ! Ra, gimana kalo lo pergi ke psikiater?” usul Sera

“hah? Lo gila !”

“kenapa? Biar semuanya selesei Ra”

Aku terdiam. Okey, kali ini aku ikuti saran Sera. Dulu mungkin aku mengecam tak akan masuk ke ruang psikiater itu. Tapi sekarang? Oh Tuhan, aku bener-bener membutuhkan psikiater itu.

Setelah itu, aku dan Sera pergi menuju tempat psikiater dekat Mall itu.

“Ser, lo yakin?”

“udah sono masuk” dorong Sera

Aku pun masuk. Aku sedikit ragu untuk berkonsultasi. Aku hanya tidak ingin masalahku membuat semua orang lain tahu. Awalnya kau berbasa-basi terlebih dahulu agar tidak terasa canggung atau malu.

“lalu sekarang apa permasalahanmu?” tanya psikiater

Lalu aku pun menceritakan dan menjelaskan semua masalahku yang mencintai orang yang sudah punya kekasih. Ya itu pacar Kak Mesya.

Ku lihat psikater itu mengangguk-angguk seraya menulis mendengarkan curhatku.

“oh begitu. Permasalahanmu cukup rumit ya dan kamu pun sudah terlanjur jauh dengan perasaan itu”

“aku harap anda bisa membantu saya menyelesaikan masalah ini” mohonku

“ya saya pasti akan membantu anda. Rara, saya tidak menyalahkan anda yang sudah jatuh cinta pada pacarnya kakakmu itu. Tetapi yang saya salahkan yaitu cara kamu mencintainya. Kamu mencintainya terlalu berlebihan. Coba kamu pikirkan jika kamu hanya memenuhi egomu. Berapa banyak orang yang kamu kecewakan karena ulahmu? Kakakmu pasti akan sedih sekali. Orangtua mu juga pasti akan kecewa terhadapmu. Dan kalau pun siapa nama pacar kakakmu itu?” psikiater itu mencoba mengingat nama Mas Yoga

“Mas Yoga”

“ah iya. Kalau pun Yoga jadi pacarmu, belum tentu ia mencintaimu. Ia hanya mencintaimu sekedar calon adik ipar. Semua orang pasti akan mengalah demi kamu meskipun mereka kecewa. Apa kamu tidak kasihan pada keluargamu? Cinta yang tumbuh di hatimu kini sudah melukai banyak orang, terutama kakakmu.”

Sudah satu jam lebih psikiater itu memberikan nasihat yang cukup membuatku berpikir lebih jauh. Kini bebanku sudah agak terkurang. Sudah jam 4 sore, aku izin pamit. Dan aku meminta agar besok bisa berkonsultasi lagi.

“mungkin besok saya ada waktu jam 10 siang. Bagaimana jika di taman saja supaya terbawa rileks juga?”

“oh baik lah kalau begitu”

 

***

 

“dek, kamu masih marah sama kakak?” tanya kak Mesya

“eh? Ngga ko kak” aku mencoba tersenyum

“bener?”

“iya kak. Aku minta maaf ya kak soal kejadian kemarin malem”

“iya kakak ngerti ko Ra.”

Aku beruntung punya kakak seperti Kak Mesya. Ia tak punya rasa dendam sedikit pun paddaku. Aku merasa bersalah. Aku sudah membuat Kak Mesya hampir mati karenaku. Apa yang telah ku perbuat? Mungkin memang benar jika aku mencintai Mas Yoga itu salah. Aku tak mungkin merebut Mas Yoga. Semua hanya lah penyesalanku yang sudah membuat malu. Rumah kini sudah agak ramai dengan persiapan pernikahan Kak Mesya dan Mas Yoga.

 

***

 

Hari ini aku tak ada kelas di kampus. Jadwalku kosong. Tapi aku ada janji dengan psikiater itu. Ah sudah jam 9, tetapi aku masih bermalas-malasan. Aku siap-siap dan segera pergi.

“Rara, kamu mauu kemana?” tanya mamah

“aku mau ke rumah Sera dulu mah.”

“jangan lama-lama ya. Disini kamu harus ikut bantu”

“iya mom”

Besok itu acara pernikahannya kak Mesya dan Mas Yoga. Semua undangan sudah disebar. Segala persiapan sudah dipesan dengan rapi. Aku tahu aku masih memendam perasaan sesak tapi aku mencoba tersenyum. Aku ingin kembali cerita pada psikiater itu.

Aku duduk sendiri di bangku taman. Ku lihat psikiater itu belum tiba. Untung aku membawa buku. Ku kerjakan tugas dari kampus untuk mengisi waktu kosong. Aku hanya berbeda tiga tahun dari kak Mesya. Maka dari itu aku selalu menganggap diriku wajar jika mencintai Mas Yoga.

“sudah lama menunggu?” seseorang menyapaku dari belakang

“oh..tidak terlalu.”

“kamu tidak pergi ke kampus hari ini?”

“aku tak ada jam di kampus”

“oh ya, bagaimana hubunganmu dengan keluargamu sekarang?” tanya psikiater

“sudah lumayan membaik. Tapi..”

“ya, kenapa?”

“besok itu kan acara pernikahannya kakakku tapi mengapa aku begitu sedih. Padahal aku mencoba untuk tersenyum dan bahagia diantara mereka”

“saya mengerti. Anda harus mencoba sabar dan ikhlas. Kamu harus mendukung kakakmu itu untuk bahagia. Cinta itu bagaikan pedang bermata dua. Jika kita tidak hati-hati dalam pemakaiannya maka ia akan melukai diri kita sendiri, atau pun orang lain yang kita sayangi. Kamu harus tahu jika cintamu pada Mas Yoga hanya lah sesaat seperti hembusan angin. Meskipun kamu tidak memiliki Yoga sebagai pacarmu tetapi kamu memilikinya sebagai kakak iparmu” Jelas psikiater

“baiklah kalau begitu aku akan mencoba ikhlas untuk menerima semuanya. Aku akan mendukung jalannya acara pernikahan itu”

Kami lalu jalan menelusuri taman. Aku dan psikiater itu seperti sudah berteman lama. Begitu akrab. Ternyata masuk ke dalam daftar psikiater itu dapat menyembuhkan dari perangkap kegalauan.

“kamu harus percaya, jika suatu saat nanti ada yang lebih dari Yoga. Mungkin saat ini kamu belum waktunya untuk menemukannya” lagi-lagi psikiater itu menasehatiku

Ya aku tahu, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagiku. Aku memang tak tahu siapa jodohku, tetapi aku percaya akan takdirku. Aku pun sudah dewasa dan bisa berpikir lebih kritis dari sebelumnya. Masalah ini akan ku jadikan pelajaran yang berharga dalam hidupku.

 

***

 

“dek, bisa bantu Mas Yoga beresin Mesjid Al-Hikmah?”

“oh iya tentu dong kak”

Aku segera pergi ke Mesjid yang akan dijadikan akad nikah besok. Tinggal beberapa lagi yang mesti dibereskan agar semuanya tampak terlihat rapi. Cape sekali. Aku beristirahat sejenak, duduk diatas anak tangga Mesjid. Aku membayangkan betapa bahagianya Kak Mesya besok. Ia pasti tampil begitu anggun dengan gaunnya.

“Rara, lagi apa?” tanya Mas Yoga dari belakangku

“aku istirahat Mas”

“ini Mas bawakan air minum untukmu” Mas Yoga menyodorkan sekaleng pocari

“oh terimakasih Mas”

“sama-sama Ra”

“Mas, mas pernah menyangka ga kalau aku mencintai Mas?”

Kulihat Mas Yoga bingung harus mengatakan apa.

“hm..tidak.” jawabnya singkat

“mas, aku mencintai mas” tak kusadar aku memeluk erat Mas Yoga

“Ra, plis Ra lepasin. Aku takut nanti Mesya lihat.” Pinta Mas Yoga berusaha melepaskan tanganku dari pelukanku.

“tidak Mas. Aku ingin sekali memeluk Mas Yoga.”

“Rara ! Yoga !” sentak Kak Mesya.

Mas Yoga segera melepaskanku dan menyusul Kak Mesya. Aku tahu pasti Kak Mesya cemburu melihat kemesraanku dengan Mas Yoga. Kini Kak Mesya mungkin marah padaku. Bodoh ! apa yang telah ku perbuat? Aku segera pergi menemui Kak Mesya untuk meminta maaf.

“iya dek, kakak sudah maafin kamu”

“syukurlah” tangisku

 

***

 

“saya nikahkan Maulana Prayoga bin Ridwan dengan Kartika Maesya Dewi binti Arya dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai”

Mas Yoga tampak begitu fasih mengucapkan ijab kabul itu. Ia lancar tak ada kendala sedikit pun.

“sah” semua orang serempak setuju bahagia

“selamat ya Kak. Semoga kakak bahagia. Selamat juga ya Mas. Aku hm…selalu mencintai Mas Yoga”

Semua orang bengong mendengarkan ucapanku tadi.

“eitss…cinta sebatas kakak ipar maksudnya. Hihihi…” cibirku

“huu..dasar nih kamu.” Kak Mesya dan Mas Yoga langsung menggelitiku dan memelukku.

Dan akhirnya kini semua kisah cintaku berakhir dengan bahagia. Aku telah belajar ikhlas dari pengalaman ini. Bahagia bukan berati harus dimiliki oleh keseorangan. Melihat orang yang kita sayangi hidup bahagia pun itu sudah merupakan dari kebahagiaan kita. Kini, Kak Mesya dan Mas Yoga sudah resmi menjadi suami istri yang sah. Congrats ^^

 

Karnamu Aku Menjadi Muslim Yang Kaaffah

8 July 2007

Diary, tadi aku ditolong seorang laki-laki yang sebelumnya pernah aku temui di kampus. Saat aku akan menyebrang tiba-tiba ada mobil yang menyerempet. Lalu lelaki itu mendorongku ke pinggir hingga aku selamat.

 

Aku Meilani Saputri. Mahasiswi UNPAD jurusan fakultas sastra China. Hari ini adalah awal aku masuk kuliah. Tidak terlalu buruk bagiku. Mungkin hanya belum beradaptasi saja. Aku bersyukur masuk di UNPAD. UNPAD adalah universitas impianku sejak aku masuk SMP. Aku masuk UNPAD dengan prestasi terbaikku yang telah ku raih semasa SMA.

 

20 July 2007

Diary, tadi pagi aku menabrak orang. Karena terburu-buru masuk kelas, aku lari dan tidak sengaja menabrak orang. Orang itu adalah lelaki yang pernah menolongku ketika aku akan tertabrak. Setelah itu aku meminta maaf padanya dan segera masuk kelas. Bodohnya aku, saat belajar tak bisa berkonsentrasi. Hanya satu yang kupikirkan.. Siapa lelaki itu? Apakah dia mahasiswa sini juga? Aku memang tidak mengenalnya.

 

25 July 2007

Diary, entah mengapa aku selalu berpapasan dengan lelaki itu. tapi aku tak berani menyapa. Ia hanya memberi sedikit seulas senyuman lalu menundukkan pandangannya. Aneh. Dia selalu begitu. Apa ada yang salah dengan diriku? Meskipun begitu, dirinya membuatku sejuk. Aku nyaman meskipun aku hanya bisa memandanginya tanpa mengenalinya.

 

Tidak terlalu lama bersendiri, aku sudah mempunyai teman. Aku memang tidak begitu familiar di kampus. Aku seorang pendiam dan cenderung lebih suka menyendiri. Terasa tenang. Tak ada keributan, ocehan yang tak berguna dan apapun yang mengganggu kenyamananku.

 

3 Agustus 2007

Diary, aku sekarang tahu siapa lelaki itu. Namanya Harits. Lengkapnya Muhammad Fadly Al-Harits. Ternyata dia itu memang satu kampus denganku. Tapi berbeda jurusan. Ia anak fakultas Sastra Arab. Aku tau dia seorang Islam yang taat. Tapi, rasaku ini memang tak bisa dipungkiri kalau aku memang suka dan kagum padanya. Ia begitu menyejukkan.

 

Aku duduk di beranda taman kampus. Menikmati indahnya hari dan kutuangkan kejadian dan perasaan yang mengganjal dihatiku pada laptopku.

“hey Mei” sapa Nafisah mengagetkanku

“hey Naf. Kau mengagetkanku” kesalku

“hehe maaf..sedang apa dirimu?” tanyanya

“aku sedang iseng ngetik sesuatu hehe” kataku denagn tangan yang masih memijit tombol-tombol di laptop

“waah coba boleh kulihat?” pintanya menggoda

“oh tidak boleh..hehe” kataku sambil kututup laptopku

“yah dasar..baiklah, aku paham” cibirnya.

Kami berdua duduk manis membicarakan sesuatu. Aku menyodorkan makanan ringan. Sesekali kami tertawa dan saling mencibir.

“wah sudah jam 3 sore, aku ada acara mengisi kajian rohani di masjid Baiturrahman” kata Nafisah

“hm..kamu sibuk ya Naf, harimu penuh dengan kegiatan yang bermanfaat” iriku

“alhamdulillah Mei. Ya sudah aku pamit duluan ya.” Senyum Nafisah

 

***

 

Cuaca akhir-akhir ini agak sedikit tidak mendukung. Terkadang cerah, terkadang juga mendung tak karuan. Mungkin dampak global warming? Ataukah? (think your self :P). Padahal ada jam kelas di kampus. Aku ga tau harus pergi apa diam saja di rumah. Ah sama seperti diriku sekarang. Aku gelisah akan keadaan aqidahku. Tidak usah munafik, aku mencintai islam meskipun aku tidak tahu sepenuhnya. Islam itu bagaikan cuaca cerah yang mendukung hari-hariku agar lebih semangat. Tetapi, keadaanku sekarang ini seperti awan mendung yang membuatku gelisah. Awan mendung itu bagaikan noda di diri ini. Tanpa ada bimbingan, tujuan, dan tanpa arah hidup yang damai. Aku gelisah bagaimana agar aku bisa keluar dari semua hitamku. Ku lihat ponselku, walpaper foto baba dan mamaku. Ku titikan air mata kerinduan.

 

10 November 2007

Diary, sebenarnya aku ingin berubah. Aku ingin masuk Islam dan berhijab. Tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu.

 

Hari ini aku ingin menemui Nafisah. Ku sms dia dan tunggu Nafisah di taman. Ku baca buku yang berjudul “Damai dengan Islam”. Aku membaca sembari merenung. Apakah jika aku masuk islam aku akan menjadi muslim yang taat seperti Harits? Apakah aku akan istiqomah seperti Nafisah? Bagaimana jika aku tidak berhasil dengan keislamanku? Semoga Allah menuntunku menuju jalannya. Amiiin..

“sudah lama nunggu Mei?” seorang perempuan berjilbab menyapaku

“eh? Lumayan Naf” senyumku sembari menyembunyikan buku yang ku baca.

“Naf, aku ingin cerita padamu” pintaku

Nafisah Mutmainnah adalah teman dekatku. Ia anak orang kaya tetapi ia anak yang baik dan rendah diri. Ia dari fakultas ekonomi jusrusan ekonomi syariah. Ia juga berkeyakinan Islam. Cara berpakaiannya juga sangatlah sopan sesuai yang diajarkan agamanya. Itulah yang membuatku terasa nyaman jika bersama Nafisah dan Harits. Meskipun kita berdua berbeda keyakinan tetapi tak ada sekat diantara kami untuk saling berbagi. Aku sangat menghargai Nafisah.. dan begitu pun dia.

“iya Mei, apa yang ingin kau ceritakan padaku?” tanyanya lembut

“eh anu Naf..” jawabku ragu

“loh? Ko gugup gitu Mei?”

“um..aku..aku ingin masuk Islam” jawabku berani

“hah?! Serius? Kamu bercanda?” kaget Nafisah

“tidak Naf. Aku serius. Nanti siang aku akan menemui Harits dan aku ingin dia mengislamkan diriku”

“Harits yang lelaki pendiam itu? mengapa kau ingin menemuinya?” tanyanya penasaran

“karena dirinya yang telah membuatku merasa nyaman dengan keadaannya. Dan aku juga akan belajar berhijab padamu setelah Harits mengislamkanku.” Jelasku lebar

“subhanallah allahuakbar” jawab Nafisah kaget

“doakan dan tuntun aku ya Naf agar aku tetap selalu istiqomah” pintaku

“aku selalu mendoakanmu Mei. Tapi, bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Nafisah serius

“aku belum tau gimana reaksi mereka” aku menunduduk

“ya sudah, nanti kalau ada apa-apa insya allah aku bantu. oh iya Mei, jam 2 nanti aku ada acara di undang oleh yayasan Al-Ghazali. Bagaimana denganmu?”

“oh hebat ya kamu.. aku mungkin akan menunggu Harits” senyumku

“kalau begitu aku pamit ya Mei. Nanti aku ajarin kamu berhijab yang benar. “ senyumnya seraya pamit

 

***

 

Sudah menjelang ashar tapi Harits belum juga muncul. Apa dia sudah pergi?Ketika aku ingin pergi ke kelasnya, ia muncul. Dan segera aku menghampirinya.

“assalamualaykum” kataku yang selalu kudengar orang Islam mengucapkan salam

“walaikumsalam. Ada apa ukhti?” tanyanya santai meskipun aku tidak tahu apa arti “ukhti”

“boleh saya minta waktunya sebentar?”

“boleh. Tapi ada apa ya?” pandangannya tetap seperti dulu

“um..saya ingin berbicara sesuatu yang sangat serius. Tapi sepertinya apa tidak mengganggu? Bagaimana kalau setelah anda sholat ashar?”

“astagfirullah..iya ukhti, saya melaksanakan sembahyang dulu. Setelah itu nanti kita bicarakan masalahmu”

 

***

 

Sudah dua bulan ini aku memeluk Islam. Kini namaku berganti menjadi Zulfah Qonitah. Murobiku yang memberi nama islam ini. Meski semua orang tidak tahu tapi orang terdekatku memanggilku dengan Zulfah. Aku merasa nyaman dengan hidupku sekarang. Hidupku yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ada kedamaian yang mengalir dalam qalbu dan jiwa. Ketika awal aku masuk islam dan berhijab, berita itu sudah menyebar hingga ke pelosok kampus. Mereka yang diluar sana tidak pernah menduga hal ini. Jika ada yang bertanya aku hanya menjawab “alhamdulillah Allah telah membukakan pintu hatiku” seraya tersenyum. Dan orang tuaku belum mengetahui keislamanku. Aku tahu, jika mereka tahu akan hal ini pastilah mereka akan marah besar. Tetapi ada sesuatu yang mendorongku agar aku memberikan kabarku sekarang kepada orang tuaku atau aku pulang ke rumah menemui mama dan babaku. Ya, aku harus menemui mereka. Aku akan menceritakan hidupku yang bahagia ini.Aku pun sering di ajak Haris dan Nafisah pergi ke tempat pengajian atau tempat-tempat islami. Dan aku lebih dekat dengan Harits karena selalu bersama dalam menjalankan program keagamaan di kampus atau pun di luar kampus. Aku masuk islam bukan karena aku ingin dekat dengan Harits, tetapi Allah memberikan aku kesadaran lewat Harits dan Nafisah. Adapun perasaanku terhadap Harits, itu hanya anugerah dari Allah. Kini aku tidak ingin mengharapkannya lebih karena aku takut diriku terkuasai oleh nafsu setan.

 

***

 

Seminggu setelah aku berpikir matang, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke Jakarta menemui mama dan babaku. Disepanjang jalan aku memikirkan bagaimana jika orangtuaku marah? Bagaimana jika mereka tidak merestui keislamanku? Dan sejuta tanya aku kubur dengan tilawah al-quran untuk menghilangkan keresahan dalam hati ini. Dan bus pun melaju dengan tersendat dengan kemacetannya.

Tok..tok..

“assalamualaikum”

“siapa ya?” tanya babaku

“ini Mei baba, Saputri Meilani putri baba” senyumku meyakinkan

“Mei? Mengapa kau berpakaian seperti ini?” tanya baba tak percaya.

Aku tahu babaku kaget dengan keadaanku. Tetapi, aku mencoba untuk tenang.

“baba, bagaimana kabarnya? Mei kesini ingin sekali bertemu dengan mama dan baba. Mei rindu”

“tunggu. Apa kamu masuk islam dengan pakaian seperti ini?

”Sontak, ada kegugupan didalam diri ini ketika babaku menanyakan hal itu. Allah, bagaimana?

“jawab Mei !” suara babaku mulai meninggi sehingga mama pun keluar

“ada apa ba? Siapa tamu itu?”

“mama, ini Mei.” Kataku

“Mei?” mama langsung memelukku dan menciumku

“mei, jawab pertanyaan baba. Apa kamu memeluk islam?”

Sepertinya baba ngotot ingin mengetahui hal itu. mama langsung melepaskan pelukannya.

“i…i..iy..a” jawabku ragu

“apa alasan kamu masuk islam? Hah?!” bentak baba

“a..aku masuk islam karena..aku menemukan suatu kedamaian yang belum pernah aku rasakan sebelumnya di hidupku ini” jelasku tenang tetapi menghormati beliau

“pergi kamu dari sini! Kamu tidak tau diuntung dan tidak bisa dipercaya!.” babaku langsung menamparku dan mengusirku

“tapi baba…” tangisku

“sudahlah baba, Mei juga kan anak kita” mama mohonkan ampun atas diriku

“aku tidak ingin punya anak yang durhaka sepertimu. Jika kau kembali lagi kepada agama sebelummu maka aku akan mengakuimu lagi sebagai anak. Tetapi jika kamu tetap dengan muslimmu maka kamu harus pergi dari rumah ini!”

“baba…” mama kaget dengan ucapan baba

“biarkan saja. Tak usah kau pedulikan anak itu!”

Baba dan mama masuk ke dalam rumah. Pintu tertutup rapat. Setelah baba mengusirku, mama dan baba masuk ke dalam rumah. Aku tahu ada segenap kekecewaan di raut mama. Aku tahu mama pedulikanku. Tapi, beliau tidak bisa berbuat selain menangis dan menyesali akan perbuatanku. Aku terima kemarahan orang tuaku. Dan aku juga tak ingin kembali ke hidupku dulu yang kelam karena ku yakin Islam adalah jalan yang lurus. Sejenak aku memandangi rumah orangtuaku. Rumah dimana aku pernah dibesarkan orangtuaku. Allah, dosakah aku? Lalu aku pun pergi dengan tangis.Sekarang aku sebatang kara. Sanak saudara pun pasti tidak akan menerima keadaanku. Aku yakin aku tidak sendiri, ada Allah bersamaku. Aku menghela nafas. Aku harus kuat dan tegar. Ku beritahu reaksi orangtuaku tentang keislamanku pada Nafisah lewat sms. Dia menasehatiku, mensupportku, menghiburku agar aku tabah.

“Sabar ya Zul. Ini semua ujian dari Allah untukmu. Allah ingin tahu seberapa istiqomahnya kamu memgang ajaran Islam. Allah ingin tahu seberapa seriusnya kamu memeluk Islam. Dan Allah juga pasti akan membukakan hati orangtuamu”

Begitulah smsnya. –Lagi- menyejukkan hati ini.

 

***

 

Hari ini tidak ada jadwal di kampus akan tetapi aku ada acara liqo di masjid an-nur. Kami sekelompok sudah berjanji mulai pukul 9 pagi. Ketika aku sedang membereskan kamarku terdengar suara ketukan pintu.

“neng..neng mei”

“oh iya bu.”

“neng, mohon maaf. Ibu kesini untuk memberitahu kalau pembayaran bulan ini bagaimana?”

“hm…tolong kasih saya waktu bu untuk mencari uang untuk bayaran.”

“yasudah ibu tunggu bulan depan. Tapi jangan lupa dengan uang untuk bulan depannya”

“oh iya ibu. Terima kasih”

Bulan ini aku belum membayar uang kontrakan. Aku tidak mempunyai uang. Sedangkan pemilik rumah sudah menagihnya. Orangtuaku juga tidak mentransferku sepeser pun. Sepertinya mama dan baba benar-benar marah. Kalau aku tidak punya penghasilan sendiri, maka aku harus keluar dari rumah ini. Aku ingin mencari pekerjaan yang setidaknya dapat meringankan ekonomiku saat ini.Sore harinya, pemilik kontrakanku datang kembali kepadaku. Beliau memberikan sepucuk surat. Surat? Tertulis dari Harits. Tumben sekali…

Salam ukhuwah

Assalamualaykumwarrahmatullahi wabarakatuh.

Ukhti, bagaimana kabarnya? Bagaimana dengan keislamannya sekarang? Semoga tetap istiqomah. Amiiin..Ukhti, saya dengar ada masalah dengan orang tua. Saya tahu perasaan ukhti dan orangtua ukhti. Mereka pasti kecewa karena mereka telah berjasa membesarkanmu. Afwan, bukannya saya ikut campur tetapi saya sarankan agar iman keislaman ukhti tidak surut karena suatu perkara. Doakan saja semoga oarng tua ukhti mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Allah akan membantumu menyelesaikan masalah. Karena Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya.Adapun dengan kedatangan surat ini, ada sesuatu hal yang serius yang ingin saya sampaikan pada ukhti. Saya mendapat hidayah dari Allah untuk meminang ukhti. Saya tahu ukhti adalah wanita yang sholehah. Saya mencintai ukhti karena Allah. Saya telah izin pada allah untuk meminang ukhti. Saya telah beristikhoroh dan alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk bersama ukhti. Ini semua karena kasih sayang yang dianugerahkan Allah kepada saya. Adapun diterima atau tidaknya pinangan saya, itu saya serahkan kepada ukhti agar membalas surat saya. Jika ukhti menerima pinangan saya, insya allah satu minggu kedepan setelah ukhti membalas surat dari saya, saya dan orangtua beserta murobi akan datang ke rumah ukhti.Mungkin hanya ini yang dapat saya tulis dalam surat. Mohon maaf jika kedatangan surat ini mengganggu ukhti.

Wassalamualaikum.wr.wb

 

Setelah 3 hari aku pun membalas surat dari Harits.

 

Walaikumsalamwarrahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih akhi atas dukungan dan dorongan selama ini. Insya Allah saya akan tetap tegar dan istiqomah dengan keislaman saya sekarang.Sungguh suatu kehormatan bagi saya ketika membaca kabar gembira ini. Jika nama akhi tertulis di Lauhul Mahfudz untuk diri ini maka rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita masing-masing. Jika engkau ingin bersama saya dalam perjalanan hidup ini maka bimbinglah saya. Dan Allah pun telah menunjukan kepada saya agar menerima lamaran akhi.Insya Allah saya akan tunggu kedatangan silaturahmi dari akhi dan keluarga.

Wassalamualaikum.wr.wb

 

Satu minggu setelah suratku diberikan kepada Harits melalui murobinya, Harits pun datang ke kontrakanku dengan orangtuanya. Dan aku pun meminta Bella dan murobiku untuk mendampingiku ibu pemilik kontrakanku juga ikut hadir mendampingi.Tidak begitu spesial. Jamuan pun seadanya. Hanya ada kue bolu, kue aster, pastel, dan sejenisnya. Setelah lama membicarakan soal lamaran, Harits meminta agar langsung melanjutkan ke acara walimatul ursy saja agar jarak dari ikatan lamarannya tidak terlalu lama.

 

 

***

 

H-7 menuju pernikahanku. Aku masih menyimapan undangan untuk kedua orangtuaku. Aku berniat untuk mengundang mereka di acara pernikahanku nanti. Atas saran dari Harits untuk mengundang orangtuaku, akhirnya aku mengirim undang pernikahanku lewat pos.

Di waktu yang sebentar lagi menjelang pernikahanku, aku masih saja sibuk dengan kuliah dan dakwahku. Bagiku, pernikahan itu tidak harus mewah. Karena yang terpenting adalah akad dan wali saksi. Menikah juga tidak hanya sekedar kata “Aku Mencintaimu” namun lebih kepada “aku siap membangun peradaban Islam dengan calonku”. Itulah arti menikah bagiku.Sampai saat ini pun aku belum mendapatkan kabar dari orangtuaku. Apakah undangan tersebut sudah sampai pada alamatnya ataukah orangtuaku saja yang tidak menggubris sedikit pun pernikahanku.Aku tak pernah tampakan gurat raut wajah yang sendu. Kucurahkan pada Rabbku. Kalau pun orangtuaku sudah benar-benar tidak menganggapku lagi, mungkin itulah jalan yang terbaiknya. Tetapi, aku tetap mengakui mereka sebagai orangtuaku meski masih dalam keadaan non islam.

 

***

 

Pukul 2 siang ini aku ada acara dengan Nafisah. Seusai jam kelas kami berjanji bertemu di mesjid kampus dan pergi untuk makan siang. Dan setelah itu kami pergi menghadiri acara sosialisasi di panti asuhan Kasih Ibu Bandung.

“sudah, aku saja yang traktir” kata Nafisah

“eh? Kenapa? Aduh biar aku saja Naf”

“Zul, alhamdulillah aku ini sedang ada rejeki. Aku ingin sekali memberi. Jadi, jangan halangkan aku bersedekah dan jangan menolak rejeki Allah” bujuk Nafisah

“yasudah kalau begitu terima kasih ya Bel. Kamu itu bisa saja membujuknya”Nafisah mencibirku dan kami bercanda bahagia.

Di sela kebahagiaan kami yang tengah asyik santai, handphoneku bunyi. Kulihat nomer yang ku kenal. Ustadzah Zahra. Ada apa ya beliau menelepon?

“Naf, sebentar ya, murobiku nelpon” aku beranjak dari dudukku

“ok”

Setelah usai menelepon, Nafisah melihat raut mukaku yang kusut. Tersirat ada rasa kekecewaan dalam diriku. Aku memeluk Nafisah erat. Erat dengan peluh tangis yang tak bisa ku tahan. Ku lihat sekeliling,orang memandangku dengan penuh tanya. Ku hiraukan mereka.

“ada apa zul?” tanya Nafisah.

Tetapi aku tak menjawab.Nafisah membiarkanku menangis dalam peluknya. Dia sarankan agar pergi ke mobilnya supaya tenang. Setelah aku dan dia masuk mobil, aku masih terisak.

“ada masalah apa zul?” tanyanya lagi

“Naf..Harits..” aku tak bisa melanjutkan ceritaku.

“Harits kenapa zul? Aku tak mengerti ceritamu.”

“harits..dia kecelakaan Naf. Ketika ia dibawa ke rumah sakit, ia tidak tertolong. Dan Allah mengambilnya” tangisku semakin memecah suasana

“innalillahi wa innailaihi roji’un. Masya Allah, sabar ukhtiku. Ini semua khendek-Nya dan kita tidak bisa membantah apa yang telah Allah tetapkan. Sekarang mari kita ke rumah Harits saja” Nafisah memelukku, lalu ia pun ikut menangis.

Mazda melaju dengan cepat. Kami mambatalkan untuk pergi ke panti asuhan Kasih Ibu Bandung. Selama perjalanan aku beristighfar. Begitu pun dengan Nafisah. Mencoba membuatku tegar dan tenang.

 

***

 

Nafisah memarkirkan mobilnya. Aku langsung pergi keluar dan ingin segera menemui calon yang telah meminangku.

“Zulfah” peluk ustadzah Zahra

“Harits dimana?” tanyaku

“di dalam. Masuk saja, ada orangtuanya” tunjuk beliau sembari mengantarkanku

Kini seorang lelaki yang dahulu aku idamkan terkujur tak berdaya di depan mataku. Ia sudah memejamkan matanya, tidur untuk selamanya, meninggalkanku dan semua orang yang mengenalinya. Kepalanya dibaluti dengan perban. Kakinya patah. Dan nafas yang dibantu dengan oksigen. Aku kembali menitikan mata. Memeluk ustadzah Zahra.

“sabar nak” beliau mencoba menenangkanku

 

***

 

15 Februari 2008

Ya Rabb…

Terima kasih engkau telah kirimkan

Dia untukku..

Dia yang menenangkan hatiku…

Dia yang selalu menjaga keimananku..

Dia yang selalu mengingatkan kepadaku sholat..

Dia yang selalu mengajariku

Bagaimana aku harus bersabar..

Dia yang membuatku menangis karenaTakut kepada-Mu..

Dia yang mengajariku bagaimana cara berhijab..

Dia yang menjaga agama-Mu..

Dia yang selalu berdoa untuk keluarganya..

Dia yang selalu taat kepada Ayah Ibunya..

Dia yang tak pernah meninggalkan sholat…

Dia yang selalu berbicara sopan.

.Dan dia yang selalu bijaksana..

Sesungguhnya aku menjaga seutuhnya diriku untuknya..

 

Dan kini, aku kembali mendapat musibah lagi. Aku harus menghadapi semuanya. Meski hati ini terkoyak, tidak ada pilihan bagiku selain tegar untuk menghadapinya. Keadaan memaksaku harus kuat meski aku tak mampu. Aku telah berusaha untuk menjadi muslim yang kaaffah. Semua ini hidayah dari Allah melalui Harits. Jika aku berputus asa maka aku termasuk orang yang merugi. Bukankah allah selalu bersama kita? Memberikan yang terbaik untuk kita, memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Hamasah !

Laa tahzan innallaha ma’ana :’)

***

END

 

Types of Question

 

  1. Yes-No Questions

Yes or No questions also called closed questions. Yes/No questions is a question for which an answer of yes or no is acceptable. This kind of question is formed by putting an auxiliary verb before the subject.

Examples :

  • Are you student? Yes, I am
  • Do you have food? No, I haven’t
  1. WH Questions

When we asking to someone for get more information, we can use WH questions. The question word always start such as what, who, when, where, why, who, whose, which, how.

Examples :

  • What is your name? My name is Sakura
  • How you can get scholarship?
  • Why you never eat rice?
  1. Tag Questions

Tag questions also called disjunctive questions. Question tags are short questions that appear at the end of some sentences. We use them to show emphasis, politeness, irony or lack of confidence. Question tags are usually used in informal and spoken English.

Examples :

  • If the main clause is positive :

~ She plays guitar, doesn’t she?

  • If the main clause negative :

~ You don’t have money, do you?

  1. Choice Questions

We use choice questions when we offer choices. And the answer is already in the question.

Examples :

  • Do you want to eat pizza or steak? Steak!
  • Do you want to watch anime or drama? I want to watch anime
  • Are you
  1. Hypothetical Questions

Hypotheticals are situations, statements or questions about something imaginary rather than something real. We ask hypothetical questions to have a general idea of a certain situation (like a questionnaire).

Examples :

  • What would you do if you have much money?
  • Would you take a scholarship to Japan?
  1. Embedded Questions

Embedded questions are also called indirect questions. A questions have affirmative word order, and are used in two situations :

  1. Polite questions
  • Could you tell me how to get scholarship?
  1. Reported speech
  • She asked me, where my house address is?
  1. Leading Questions

We ask leading questions when we want to get the answer we desire.

Examples :

  • What do you think negative effect of smoke?

 

Exercises :

  • You are Japanese, …
  • She writes a good story, …
  • He didn’t go to work, …
  • Are you hungry?
  • Do you make this cake?
  • Does she loves you?
  • Where will you go tomorrow?
  • When you will come back to Japan?
  • How much the price of this delicious food?
  • Do you want to rent a car or motorcycle?
  • Did you trip to Russia or German?
  • What would you do if you break up with your boyfriend?
  • Would you come to see theater performance?
  • Could you help me to repair my bicycle?
  • He asked Yuki, which one food that I like is?

 

Source :

http://www.grammarbank.com/question-types.html

http://www.eslmonster.com/article/kinds-of-questions

https://www.englishclub.com/grammar/verbs-questions_types.htm